Bulungan

Infrastruktur Belum Memadai, Sebabkan Biaya Pertanian Tinggi

PERTANIAN – Untuk mewujudkan pusat pangan berbasis industri, dua tahun kedepan, Pemkab Bulungan genjot pembangunan pertanian. (Foto : Nurjannah/ Koran Kaltara)
TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Biaya yang harus dikeluarkan para petani atau yang disebut biaya pertanian di sejumlah wilayah di Bulungan, dinilai masih relatif mahal. Hal itu dikarenakan belum didukung infrastruktur yang memadai. Ongkos angkut hasil produksi pertanian menjadi beban yang perlu dicari solusinya. Bulungan sendiri memiliki visi dan misi, menjadikan Bulungan sebagai pusat pangan…

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Biaya yang harus dikeluarkan para petani atau yang disebut biaya pertanian di sejumlah wilayah di Bulungan, dinilai masih relatif mahal. Hal itu dikarenakan belum didukung infrastruktur yang memadai.

Ongkos angkut hasil produksi pertanian menjadi beban yang perlu dicari solusinya.

Bulungan sendiri memiliki visi dan misi, menjadikan Bulungan sebagai pusat pangan berbasis industri hingga 2021 mendatang. Meski memiliki modal awal berupa luasan lahan yang memadai, namun pengembangannya selama ini masih terkesan stagnan.

“Kita memang perlu bekerja sama dengan sejumlah pihak, agar bisa berjalan beriringan dengan pemerintah daerah. Kita perlu memaksimalkan lahan yang sudah ada, termasuk peruntukan wilayah food estate. Kita akui, sampai saat ini belum maksimal pengembangannya. Itu perlu kita evaluasi dimana salahnya,” ujar Asisten II Setkab Bulungan Hamdani, saat melakukan pembahasan bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), terkait upaya pengembangan pertanian, belum lama ini.

Sementara itu, Kepala Bappeda dan Litbang Bulungan M Isnaini menambahkan,masuknya HKTI ke Bulungan, nantinya diharapkan dapat memberikan masukan untuk daerah ini.

“Intinya komitmen bupati untuk mewujudkan sebuah pertanian, pangan unggul. Karena saat ini sudah hampir tiga tahun, tapi capaiannya belum maksimal. Memang berkaitan dengan misi. Kami Bappeda juga punya tanggung jawab moral untuk mengawal capaian visi hingga akhir masa jabatan. Adanya HKTI juga saya pikir nantinya bisa membantu, bagaimana menjadikan petani yang unggul petani yang mandiri,” jelasnya.

Isnaini mengasumsikan, kondisi Bulungan saat ini terutama dalam hal pengembangan pertaniannya, masih mengalami sakit dan harus diobati.

“Kita punya modal dasar berupa lahan, kemudian tenaga kerjanya dari petani yang kita datangkan melalui program transmigrasi itu pun sudah ada. Apakah tanah tidak subur, itu saya pikir berproses, ada hal yang mendasar, yakni insfrastruktur. Saya yakin di situ karena mungkin cost (biaya) dari produksi itu tinggi. Sehingga memang perlu strategi bagaimana memproyeksikan pengembangan ini. Kita yakini saja bersama ini bisa berjalan,” ulasnya. (*)

Reporter: Nurjannah

Editor: Edy Nugroho

Artikel ini juga terbit di versi cetak Koran Kaltara edisi 17 Desember 2018