Headline

Inflasi Meroket Jelang Akhir Tahun

BPS mencatat inflasi di Tarakan sebagai barometer Kaltara mulai merangkak naik di Bulan November 2019. (Foto : Agung Riyanto/Koran Kaltara)
  • Harga Bahan Makanan Melonjak di November 2019

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara mencatat tren inflasi mulai naik signifikan jelang akhir tahun 2019. Berdasarkan rilis inflasi November yang diumumkan Senin (2/12/2019), diketahui inflasi Kota Tarakan sebagai barometer Kaltara, berada di angka 0,63 persen.

Dibandingkan 82 kota yang menjadi lokasi penghitungan inflasi di Indonesia, Kota Tarakan masuk dalam jajaran 10 besar tertinggi. Yakni di peringkat tujuh di bawah Kota Parepare yang mengalami inflasi sebesar 0,84 persen. Sementara di regional Kalimantan, inflasi Tarakan menjadi tertinggi ke dua di bawah Kota Tanjung (Kalimantan Selatan) sebesar 0,97 persen.

Untuk diketahui, kondisi inflasi November mematahkan deflasi atau tren penurunan harga selama empat bulan ke belakang secara berturut-turut. Yakni di bulan Juli sebesar 0,64 persen, Agustus sebesar 0,92 persen, September sebesar 0, 57 persen dan di Oktober sebesar 0,30 persen.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, bahan makanan didapati mengalami inflasi tertinggi dibanding kelompok lainnya, yakni sebesar 2,07 persen. Sederhananya, harga-harga komoditas bahan makanan naik lebih tinggi dibanding kebutuhan masyarakat lainnya.

Sementara itu, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang selama ini menjadi momok menakutkan dalam lonjakan inflasi Kaltara, justru menunjukkan deflasi 0,63 persen. Hal ini dikarenakan adanya penurunan harga dari tarif angkutan udara selama November 2019. Senada dengan kelompok tersebut, BPS Kaltara juga mendapati deflasi yang terjadi di kelompok sandang sebesar 0,16 persen.

Dari catatan Koran Kaltara, diketahui beberapa komoditi bahan makanan di Pasar Gusher – Tarakan memang mengalami kenaikan harga. Seperti ikan bandeng yang naik hingga Rp5 ribu untuk ukuran jumbo, telur ayam ras naik dari Rp48.000/piring menjadi Rp50.000/piring, kacang tanah dari Rp32 ribu/kg menjadi Rp36 ribu/kg, minyak goreng ukuran 5 liter naik dari Rp68 ribu menjadi Rp72 ribu dan beras merk lahap dari Rp320.000/karung menjadi Rp330.000/karung.

Kepala BPS Kaltara, Eko Marsoro menjelaskan, pemerintah daerah memang perlu mewaspadai gejolak kenaikan harga bahan pokok menjelang perayaan natal dan tahun baru di momen akhir tahun. Dimana potensi permintaan masyarakat secara pola historis akan naik signifikan dibanding bulan-bulan lainnya.

“Biasanya menjelang Natal dan Tahun Baru, bahan pokok memang naik nih, termasuk sandang juga. Itu yang utama harus dikendalikan pemerintah daerah. Kalau transportasi udara kan domain-nya nasional ya,” jelas Eko saat diwawancara usai Pers Rilis di Kantor BPS Kaltara, Senin (2/12/2019).

Lanjutnya, gejolak inflasi di akhir tahun juga akan dipengaruhi strategi lapangan usaha yang menggelar diskon besar-besaran untuk meraih banyak keuntungan. “Untuk di kota-kota besar, biasanya ada great sale  di akhir tahun, mereka diskon besar-besaran. Itu yang juga bikin inflasi,” tambah Eko.

Dari pendekatan statistik, Eko juga memberi rekomendasi untuk pemerintah daerah agar bisa menjaga ekspektasi konsumen. Kondisi psikologis masyarakat yang takut kehabisan stok barang pada momen-momen tertentu, juga harus menjadi perhatian.

“Inflasi tidak sekadar dipengaruhi faktor distribusi dan stok barang saja, tapi juga faktor ekspektasi masyarakat. Seperti di saat Idul Fitri, walaupun pemerintah yakin betul stok tidak akan kurang, tapi di sisi masyarakat sering kali merasa ‘kalau tidak buru-buru belanja, bisa kehabisan barang’. Nah di situ hukum ekonomi langsung berlaku. Dimana ketika banyak pembeli, maka harga naik,” jabar Eko.(*)

Reporter : Agung Riyanto

Editor : Nurul Lamunsari