Headline

Industri Dimudahkan Deregulasi Impor

Kemudahan izin impor besi dan baja menguntungkan pelaku industri di Kaltara yang menjadikan komoditi ini sebagai bahan baku. (Foto: Dokumen/Koran Kaltara)
  • Untungkan Kaltara karena Butuh Bahan Baku Usaha

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMK (Disperindagkop) Kalimantan Utara (Kaltara), Budi Harsono Laksono menyampaikan, pelaku industri di Kaltara mendapat kemudahan dari adanya deregulasi atau penyederhanaan aturan impor yang baru.

Secara teknis, regulasi tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) tentang tata niaga impor yang berisi 17 poin kebijakan. “ Regulasi ini berfungsi untuk memudahkan kinerja industri yang menggunakan bahan baku impor untuk tujuan pasar ekspor (luar negeri). Tentu ini sangat menguntungkan bagi Kaltara yang sedang persiapan dalam meningkatkan kinerja ekspor dari komoditi hasil industri,” kata Budi saat dikonfirmasi Koran Kaltara, Selasa (8/10/2019).

Lebih detail, 17 poin yang ada mengatur masuknya komoditas impor dengan kriteria dilarang sebagian atau larangan terbatas (lartas). Komoditas yang seyogyanya harus melalui pemeriksaan sebelum masuk kawasan kepabeanan oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai, saat ini skemanya diubah dengan ditangani langsung oleh masing-masing kementerian terkait.

“Pihak importir dapat mengefisiensikan waktunya dalam pengurusan izin serta dokumen barangnya. Dimana saat ini skemanya sudah online. Pihak pemeriksanya pun disesuaikan dengan jenis komoditas impornya,” urai Budi.

Untuk jenis Permendag sendiri, menurutnya dibagi sesuai dengan jenis barang yang diimpor. Atau secara rinci terdiri dari besi atau baja, baja paduan dan produk turunannya, jagung, produk kehutanan, mutiara, ban, mesin mulitifungsi berwarna, mesin fotokopi dan printer berwarna, bahan baku plastik, pelumas, kaca lembaran, keramik, intan kasar, produk holtikultura, hewan dan produk hewan, alat-alat ukur serta timbangan dan barang berbasis sistem pendingin.

“Komoditas tersebut yang mendukung kinerja industri, baik yang bersifat langsung ataupun tidak. Sederhananya, investasi yang nanti masuk ke sini dengan bahan baku komoditi tersebut, skema pengurusannya jauh lebih mudah,” kata Budi.

Terkait implikasi di lapangan, Budi menjelaskan, untuk garis besarnya cenderung lebih banyak dirasakan perusahaan sebagai pihak importir sesuai dengan kualifikasi jenis komoditi. Adapun apabila di lihat dari sisi perdagangan luar negeri, Budi menjelaskan, fokus pada dua item peningkatan nilai ekspor. Baik yang berhubungan dengan kriteria barang dan negara tujuan ekspor.

“Berdasarkan informasi yang saya terima, regulasi ini pun dapat meningkatkan kinerja dan tata kelola di pelabuhan yang memfasilitasi perdagangan luar negeri. Sehingga tentunya diharapkan bisa terasa manfaatnya oleh seluruh pelaku usaha dan pihak lain di dalamnya,” tutup Budi.(*)

Reporter : Agung Riyanto

Editor : Nurul Lamunsari