Ruang Publik

Hoax Sebagai Persoalan Moral

Valentinus Balela
  • Oleh : Valentinus Balela, S.Fil

PERGERAKAN manusia dalam tatanan kehidupan selalu mengalami kemajuan. Hal ini ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dirasakan saat ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seakan tak terpisakahkan dari kehidupan manusia, sebab sudah menjadi konsumsi publik. Namun, tidak dapat disangkal bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini juga dapat mempengaruhi tingkahlaku seorang manusia.

Di satu sisi secara positif dapat membantu manusia dalam mengembangkan kepribadiaan seseorang ke arah yang lebik baik. Namun, di lain sisi secara negatif dapat juga membawa dampak yang buruk bagi perilaku manusia. Bukan untuk menuduh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penyebab utama adanya ketimpangan dalam berperilaku, melainkan karena penggunaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi belum sesuai dengan maksud dan tujuannya atau lebih tepatnya masih disalahgunakan.

Teknologi, menurut Frans Magnis Suseno teknologi kelihatan mengobrak-abrik kebudayaan tradisional, termasuk nilai-nilai dan tradisi moralnya,…(Dalam buku Frans Magnis Suseno; “Pijar-Pijar Filsafat, hlm. 25).

Berita hoax menjadi salah satu contoh nyata yang sedang mengobrak-abrik nilai-nilai moral. Sebaliknya, teknologi khususnya media elektronik dijadikan sebagai sarana dalam menyebarkan berita hoax ke dalam kehidupan publik. Hoax kemudian menjadi persoalan moral karena di dalamnya tersirat unsur “kebohongan” atau penggelapan atas sebuah kebenaran.

Maraknya berita hoax yang terjadi dewasa ini menandakan bahwa kehidupan manusia sedang mengalami kemerosotan moral. Hal ini sebabkan oleh peran subjek dalam menyebarkan berita hoax. Hoax sengaja diciptakan untuk suatu kepentingan tertentu dan mengabaikan dampak negatif bagi masyarakat.

Nilai-nilai moral mulai dikesampingkan demi sebuah popularitas, kekuasaan dan jabatan. Sungguh sangat memprihatinkan.

Pengabaan total terhadap moralitas akan berdampak pada keretakan hubungan sosial dalam masyarakat. Sebab nilai-nilai moral menjadi salah satu tali pengikat masyarakat dalam menjalin suatu hubungan sosial. Selain menjadi  tali pengikat, juga dapat menjadi pilar utama dalam mengatur tingkahlaku seseorang dalam perbedaan dengan yang lain.

Setiap orang diwajibkan untuk bertanggungjawab atas perilakunya. Melalui nilai-nilai moral segala perbedaan sikap dan perilaku dipadukan menjadi satu. Dengan demikian, setiap orang tidak dapat bertindak menurut kehendaknya sendiri. Dalam arti bahwa kebebasan dalam bersikap dan bertindak dibatasi oleh nilai-nilai moral yakni nilai-nilai adat-istiadat, budaya, agama dan bangsa yang telah disepakati bersama untuk menjadi acuan dalam bersikap dan berperilaku.

Akhir-akhir ini, setiap isu yang dituang ke dalam media hampir sulit untuk dibedakan kebenaran dari isu tersebut apakah isu yang diangkat mempunyai kebenaran yang valid ataukah hanya sengaja diciptakan untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya atau penggelapan atas sebuah kebenaran? Tentu realitas ini menjadi keresahan tersendiri bagi masyarakat. Karena di satu sisi masyarakat akan diadu oleh berita tersebut. Hubungan-hubungan baik yang telah dibangun diporak-porandakan. Dan akan memicul timbulnya sikap sinis, fanatik dan radikal antarsesama bahkan antarkelompok dan golongan dalam masyarakat.

Keberadaan berita hoax tentu tidak dapat dibenarkan untuk tetap dibiarkan adanya. Di sini dibutuhkan sebuah penanganan atau penanggulangan secara serius dan sungguh-sungguh untuk menghilangkannya, karena apabila dibiarkan secara terus-menerus akan menimbulkan bahaya buruk bagi masadepan bangsa.

Tentu semua orang tidak menginginkan sesuatu yang buruk itu ada atau terjadi di dalam negeri ini. Sebab kehidupan sebuah negara yang baik adalah tangggungjawab bersama. Oleh karena itu, perlu adanya sikap dari masing-masing pribadi manusia untuk berani memerangi penyebaran berita hoax.

Salah satu solusi alternatif yang bisa ditawarkan disini yakni dengan melibatkan peran rasionalitas untuk tidak mudah jatuh kedalam berita hoax tersebut.

Peran Rasionalitas Dalam Menanggulangi Hoax

Perkembangan manusia dewasa ini tidak luput dari peran rasionalitas manusia. Rasionalitas berarti sebuah paham yang menjadikan akal manusia sebagai tolok ukur untuk mencapai suatu kebenaran terhadap sebuah fenomena. Suatu fenomena diterima menjadi sebuah kebenaran apabila diterima oleh akal budi manusia, dengan melakukan kajian terhadap gejala atau fenomena yang ada dengan menggunakan metode-metode seturut paham rasionalitas. Akal budi dijadikan sebagai filter atau penyaring dalam memperoleh sebuah kebenaran terhadap suatu realitas.

Dalam kaitannya dengan berita hoax terjadi sebuah kontradiktoris baik secara akal budi manusia mapun secara moral. Secara akal budi manusia, berita hoax tidak mempunyai kebenaran atas isi berita yang disajikan kepada masyarakat.

Di lain pihak, secara moral isi berita hoax terkandung nilai kebohongan bagi masyarakat. Dengan demikian, baik secara akal budi maupun secara moral, kehadiran berita hoax ditolak atau tidak terima untuk dijadikan sebagai konsumsi publik.

Tentu tidak semua, tapi mungkin saja ada sebagaian masyarakat yang mengalami kesulitan dalam membedakan isi sebuah berita yang terkandung nilai kebohongan dan kebenaran terhadap isi berita tersebut. Ini sebagai akibat dari kurangnya literatur dan menggunakan peran akal budi dalam melakukan kajian secara rasional terlebih dahulu untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya terhadap isi berita tersebut.

Akibatnya  jatuh menjadi “sesat berpikir” dan membenarkan berita hoax atau kebohongan tersebut kepada yang lain. Hemat penulis, ini sangat fatal. Karena di satu sisi sangat merugikan  bagi kehidupan bersama. Di lain pihak sangat membawa keuntungan tertentu bagi subjek penyebar berita hoax tersebut, yang mana visi dan misinya tercapai dan bukan untuk membawa kenyamanan bagi bangsa melainkan keresahan.

Perilaku meyebarkan berita hoax sama dengan perilaku bohong yang membawa nilai negatif ke tengah-tengah kehidupan manusia. Hoax menjadi simbol kejahatan moral yang harus segera dijegal, sebelum menjadi berakar demi keutuhan bangsa dan negara. (*)

*) Penulis adalah Pramubakti Bimas Katolik Provinsi Kaltara