Ruang Publik

Hijrah, Logika Transformatif Menuju Inklusivitas Beragama

Ali Syafi'i
  • Oleh. Muh Ali Syafi’I, S.Ag

HASAN an Nadwi berkomentar: Dimulai dengan Hijrah, atau pengorbanan demi kebenaran dan keberlangsungan Risalah. Ia adalah ilham ilahiyah. Allah ingin mengajarkan manusia bahwa perlawanan antara kebenaran dan kebatilan akan berlangsung terus. Menurut Quraisy Syihab: Hijrah adalah meninggalkan yang salah menuju keyakinan yang benar. Al Qur’an. [2]:218 menyebutkan;

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “

Hijrah tonggak sejarah dakwah Rasulullah Saw untuk mempertahankan risalah dan dakwah. Di Mekkah dengan berbagai tekanan, diskriminasi, penindasan kaum kafir Quraisy semakin menjadi-jadi terhadap kaum muslimin , sehingga pada tahun ke 13 kenabian, Rasulullah memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke kota Yatsrib, atau yang kita kenal sekarang dengan kota Madinah, kota yang masyarakatnya lebih cerdas, lebih berfikiran terbuka sehingga bisa menerima kehadiran Nabi yang dirindukan itu.

Kota yang masyarakatnya terdiri dari berbagai macam latar belakang ras, suku, bangsa, dan agama, namun hidup berdampingan dengan rukun, kota yang sangat berbeda dengan Mekkah yang masyarakatnya tak beragam, sehingga sulit melepaskan diri dari sifat kesukuan dan ketertutupan diri.

Disini Rasulullah Saw menemukan masyarakat yang plural. Ketika itu, di Madinah terdapat suku-suku yang sebelumnya terlibat dalam peperangan antar mereka selama bertahun-tahun, terutama suku Aus dan Khazraj.

Ada juga banyak orang Yahudi dari berbagai suku dengan kekuatan ekonomi serta persenjataan, bahkan benteng-benteng yang kokoh, untuk melindungi diri. Ada juga masyarakat muslim, walau belum banyak.

Sebelum Nabi SAW tiba di Madinah, warga Madinah yang sudah muslim sudah aktif berdakwah sehingga jumlah muslim dari hari ke hari bertambah. Keanekaragaman di Madinah tercermin pula dalam keanekaragaman agama dan kepercayaan mereka.

Beliau disepakati menjadi pemimpin di Madinah. Dalam kesepakatan itu, lahirlah aneka aktivitas yang menyejahterakan masyarakat. Nabi antara lain melakukan sensus penduduk Muslim, membangun pasar serta menggali sekian banyak sumur yang kesemuanya merupakan kebutuhan masyarakat.

Selama periode Madinah ini, keadilan diterapkan secara utuh (tanpa kecuali) oleh Nabi, termasuk terhadap Muslim yang melanggar.

Sebelum hijrah ke Yatstrib ( Madinah) para pengikut awal Nabi Muhammad pernah melakukan hijrah di Abbysinia/Habasyah/Habsyi (sekarang: Ethiopia) untuk menghindari kekerasan dan persekusi yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy di Mekkah.

Di Ethiopia, para pengikut Nabi mendapatkan perlindungan keamanan dari seorang raja Kristen yang adil dan bijaksana yang bergelar Raja Negus (Najasyi). Momen hijrah ini dapat disebut sebagai hijrah gelombang pertama.

Kerajaan Habasyah ( Habsyi), yang terletak di seberang lautan. Kondisi geografis ini dipandang begitu menguntungkan bagi umat Muslim yang berhijrah, karena lebih menjamin keselamatan mereka dari kejaran kaum Quraisy yang saat itu belum mahir menghadapi medan laut.

Selain itu, Habasyah merupakan kerajaan yang masih menganut ajaran Nabi Isa AS. Sang Raja selalu ditemani oleh para uskup yang tangan mereka tak lepas dari kitab suci Injil. Sehingga ia dikenal sebagai raja yang bijaksana, selalu menjunjung tinggi keadilan dalam mengambil keputusan.

Selain itu, peristiwa kegagalan Abrahah dan pasukan gajahnya beberapa puluh tahun silam, masih terngiang di seluruh penjuru negeri. Abrahah, salah satu gubernur di bawah kekuasaan Raja Habasyah tumbang oleh serangan luar biasa oleh burung ababil ketika hendak menghancurkan Ka’bah.

Peristiwa itu begitu membekas di setiap memori rakyat Habasyah, dan beranggapan bahwa Mekkah dan penduduknya memiliki sejarah suci yang layak dihormati
Raja Habasyah benar-benar memenuhi apa yang diharapkan oleh Nabi dan kaum muslimin. Beliau bersedia memberi jaminan keselamatan dan menghormati akidah umat muslim yang berada di negerinya.

Berkat hubungan baik tersebut, akhirnya Raja Habasyah beriman kepada ajaran Nabi Muhammad SAW. Saat beliau wafat, Rasul SAW mendirikan shalat ghaib dan memohonkan ampun kepada Allah untuk Sang Raja.

Hijrah Nabi ke Habasyah ( Habsyi) dan Madinah seharusnya memberi banyak inspirasi bagi umat Islam mengenai diskursus tentang toleransi. Di Habsyi dan Madinah perbedaan agama bukan suatu hal yang dipersoalkan dalam membangun sebuah keharmonisan kemanusiaan tapi sebuah perangkat untuk lebih mengenal titik temu ( kalimatun sawa’) kebenaran Ilahiyah seperti yang disebutkan dalam Qur’an Surat ‘Ali Imran [3]: 3:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahlul Kitab (orang-orang Yahudi dan Nasrani), marilah kita (berpegang) pada kalimat yang sama, yang tidak ada perbedaan antara kami dan kalian. Hendaknya kita tidak menyembah selain Allah dan hendaknya di antara kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, katakanlah, (Muhammad dan orang-orang Mukmin) kepada mereka, ‘Kami adalah orang-orang yang berserah diri.’”

Di Madinah lahir Piagam Madinah. Melalui Piagam Madinah ini, maka dijamin tidak ada segresi dan alienasi bagi non-muslim.Yahudi dan Nasrani diberikan status “dzimmi” (minoritas yang dilindungi), suatu status yang memberikan perlindungan militer dan sipil bagi mereka selama menghormati hukum dan supremasi negara Madinah.

Mereka diberikan kebebasan penuh untuk menjalankan urusan agama, sosial dan ekonomi.Tidak ada slogan anti non-muslim yang tumbuh. Tidak ada kebencian yang berpeluang lahir dari perbedaan etnis antar suku-suku. Madinah adalah cerminan paling ideal negara multikultural.

Sayidina Ali bin Abi Thalib berkomentar: “Bahwa dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudara dalam kemanusiaan”. Atau mungkin dalam istilah kawan-kawan dari kalangan Nahdliyin (NU) bisa disepadankan dengan “ukhuwah insaniyah” (persaudaraan dalam konteks kemanusiaan), yang ditempatkan berdampingan dengan “ukhuwah Islamiyah” dan “ukhuwah wathoniyah” (dalam konteks bernegara/kebangsaan). Betapa tinggi pandangan moderatisme yang dikembangkan sayidina Ali bin Abi Thalib.

Menurut Syafi’i Ma’arif, berhijrah seharusnya membuat kita menjadi lebih dewasa dan tawadhu dalam beragama. Orang yang berhijrah harus senantiasa fokus untuk memperbaiki kualitas imannya dan juga tidak boleh merasa diri lebih baik dari orang yang dianggap belum berhijrah.

Jangan sampai karena sudah merasa berhijrah, kita lalu merendahkan orang lain sebagai pendosa, pelaku bid’ah dan kemaksiatan.

Proses dakwah tidak bisa bersifat instan karena pada dasarnya, setiap orang memiliki proses yang berbeda-beda dalam menemukan hidayah. Hidayah secara bahasa seakar dengan kata hadiah. Karena itu, berikanlah hadiah kepada orang lain dengan penuh senyuman, kelembutan, dan keramahan, bukan dengan caci maki dan sumpah serapah.

Kalau dakwah kita masih dipenuhi caci maki dan sumpah serapah, maka jangan menyalahkan kalau orang lain tak kunjung “berhijrah” dan mendapatkan hidayah.

Fenomena saat ini yang muncul di medsos sangat memprihatinkan, beda pilihan politik, beda golongan dengan mudahnya saling mencaci maki, mengkafirkan dan membid’ahkan bahkan yang lebih radikal ingin merubah Pancasila ideologi negara yang sudah final dengan ideologi khilafah. Pancasila dianggap sebagai ideologi toghut, idiologi kafir yang harus diganti dengan sistem khilafah.

Dr. Munirul Ikhwan dosen Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga mengemukakan, bahwa doktrin hijrah gampang menjangkit kalangan menengah urban yang frustasi dan haus inspirasi kesalehan. Yang mengkhawatirkan dengan menguatnya praktik hijrah dan menguatnya konservatisme dalam beragama.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan misi hijrah awal di masa Rasulullah Saw bahwa hijrah bertujuan membentuk insfrastruktur bangunan keagamaan yang universal, inklusif, dinamis. Bukan terjebak kembali ke paradigma keagamaan yang ortodok, konservatif dan eklusiv.

Dalam Kaidah Ushul Fiqh disebutkan” Al Mukhafadzatu ala Qadimis Sholih wal Akhdzu bil Jadidi al Ashlah” ( Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Hal ini sesuai juga dengan apa yang dikemukakan Muhammad Arkoun Tokoh Pemikir Islam asal Al Jazair : “Kita harus melakukan pemikiran kembali konsep-konsep lama tentang agama dan masyarakat untuk menuju pemikiran baru berdasarkan solidaritas historis dan integrasi sosial.”

Sehingga Al Qur’an sebagai landasan fundamental dalam berhijrah akan selalu dekat dengan realitas sosiohistoris dan pesan moral Al-Quran menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia.

Prof. Quraish Shihab, “Al-Quran adalah jamuan Tuhan. Rugilah orang yang tidak menghadiri jamuan-Nya, dan lebih rugi lagi yang hadir tetapi tidak menyantapnya.” (HR. Ad Darimi); “Ayat-ayat Al-Quran bagaikan intan: setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Dan tidak mustahil, jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang Anda lihat.”

Hijrah diharapkan mampu membangun mercusuar pemahaman keagamaan yang kokoh (tafaqquh fi addin) dan memberi kekuatan transmisi positif dalam gerakan transformasi keIslaman yang kosmopolit. Bahwa Islam sebagai Risalah Ilahiyah adalah spirit yang tak akan pernah kering menggerakan pemeluknya untuk aktif melahirkan ide-ide kreatif yang inklusiv dan moderat. Wa Allahu A’lam bi Showab. (*)

*) Penulis adalah JFU. Seksi PHU Kanwil Kemenag Kaltara

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment