Ekonomi Bisnis

Harga Rokok Mulai Naik

Meski kenaikan cukai rokok dan harga jualnya baru diberlakukan 1 Januari 2020, harga rokok sudah terpantau mulai naik di Tanjung Selor. (Foto : Agung/Koran Kaltara)
  • Para IRT Inginkan Suaminya Bisa Berhenti

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Harga jual rokok terpantau mulai merangkak naik di Ibukota Kalimantan Utara, Tanjung Selor dalam sepekan terakhir. Kondisi ini tergolong terjadi  lebih cepat, mengingat pemerintah pusat baru memberlakukan kenaikan cukai rokok dan harga jualnya per tanggal 1 Januari 2020.

Salah satu pemilik toko kelontong di Jalan Rambai Padi, Mustafa mengatakan, dirinya terpaksa menaikkan harga jual karena harga yang diterima dari distributor juga lebih tinggi dibanding sebelumnya.

“Rata-rata udah naik Rp5000 sampai Rp6.000 per slopnya ini,” kata Mustafa kepada Koran Kaltara, Senin (30/12/2019).

Dikatakan Mustafa, dirinya tidak kaget dengan adanya kenaikan harga di penghujung tahun ini. Terlebih dirinya juga sudah mengetahui bahwa akan ada kenaikan harga mulai awal tahun 2020. Dengan kenaikan harga dari distributor, dirinya rata-rata menaikkan harga jual per bungkus senilai Rp1.000 sampai Rp2.000.

“Kayaknya tahun depan ini bisa lebih mahal lagi. Ini aja belum mulai aturannya, apalagi kalau nanti udah berlaku,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan pedagang toko kelontong lainnya di Jelarai. Rima – sapaan akrabnya mengatakan, rata-rata konsumen tidak terlalu kaget dengan kenaikan yang sudah terjadi. “Yang beli biasa aja sih mas. Ya cuma bilang nanti bisa tambah mahal lagi nih tahun depan,” ujarnya.

Ia mengatakan, rokok dengan merk Sampoerna Merah saat ini harganya Rp25.000 per bungkus dari sebelumnya Rp24.000 per bungkus. Kemudian untuk rokok dengan merk Marlboro dari Rp28.000 per bungkus menjadi Rp30.000 per bungkus. “Masih seribu dua ribu aja sih naiknya,” imbuh Rima.

Kendati sudah mulai merangkak naik, salah satu perokok yang berkenan diwawancara, Fadilah mengaku belum terpikir untuk berhenti meski harus merogoh kocek lebih dalam lagi.

“Kalau saya yang penting rasa mas. Meski naik ya tetep saya beli. Tapi ya harus lebih rajin lagi cari uangnya,” ujar Fadilah sembari berseloroh.

Hal senada juga disampaikan perokok lainnya, Wahyu. Kendati mulai memutar otak untuk mensiasati potensi membengkaknya pengeluaran untuk produk olahan tembakau ini, dirinya belum terpikir untuk berhenti.

“Rokok saya sekarang Rp25.000 sebungkus. Kalau satu bulan berarti Rp750.000 karena saya satu hari satu bungkus. Nanti kalau naik pasti tambah lagi ini. Pusing juga ya,” kata Wahyu.

Namun, ada juga perokok yang didapati akan mulai mengganti rokok nya dengan rokok elektrik. Menurutnya, hal tersebut untuk menekan pengeluaran saat harga rokok mulai melambung.

“Beli pod (rokok elektrik) aja kayaknya. Teman saya bilang soalnya lebih hemat,” jelasnya.

Di lain sisi, salah satu ibu rumah tangga yang ditanya tentang hal ini, Rianning Desiamah, sangat berharap agar suaminya bisa berhenti merokok. Selain masalah kocek pengeluaran, dirinya mengaku juga mempertimbangkan aspek kesehatan sang suami.

“Semoga suami saya turut sadar. Selain juga kan bahaya  menjadi perokok. Bertepatan dengan kenaikan harga rokok  ya semoga menjadi waktu yang tepat baginya untuk bisa berhenti,” ucap Rianning.

Adapun ketika dibahas lebih mendalam, Koran Kaltara edisi September 2019 mencatat, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, Eko Marsoro, tidak menampik bahwa kenaikan harga rokok bisa berpotensi terhadap laju inflasi di tahun 2020. Namun dengan catatan adanya kesamaan dari tingkat tingginya pengeluaran masyarakat yang dialokasikan untuk komoditi ini.

“Rokok memang bisa jadi komoditi penyumbang inflasi lebih tinggi saat harganya sudah naik. Karena kita tahu juga bahwa jumlah masyarakat yang merokok ini tergolong cukup banyak. Inflasi bisa saja turun saat konsumsinya menurun. Atau di lain sisi, harga-harga barang lain yang turun,” kata Eko. (*)

Reporter : Agung Riyanto

Editor : Rifat Munisa