Ruang Publik

Haji Sebuah Rekontruksi Spiritualitas Umat

Ali Syafi'i

Oleh: Muhammad Ali Syafi’I,S.Ag

PERINTAH haji dimulai sejak Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Pada mulanya Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk menempatkan istrinya, yaitu Hajar dan putranya Ismail di tanah Makkah. Selanjutnya Allah SWT memerintahkan kepada Ibrahim untuk membangun Ka’bah pada posisi Qubah yang telah Allah turunkan kepada nabi Adam AS.

Tetapi Nabi Ibrahim tidak mengetahui posisi Qubah itu, karena Qubah tersebut telah diangkat lagi oleh Allah ketika terjadi peristiwa banjir besar di bumi pada masa Nabi Nuh AS. Kemudian Allah mengutus Jibril untuk menunjukkan kepada Ibrahim posisi Ka’bah.

Kemudian Jibril datang membawa beberapa bagian Ka’bah dari surga. Nabi Ismail membantu ayahandanya mengangkat batu-batu dari bukit.

Prof. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999) menjelaskan, bahwa ibadah haji pertama kali dikumandangkan oleh Nabi Ibrahim sekitar 3.600 tahun yang lalu. Ketika selesai pembangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Ismail melakukan ibadah haji.

Pada tanggal 8 Dzulhijjah, Jibril turun menemui dan menyampaikan pesan kepada Ibrahim. Jibril meminta Nabi Ibrahim mendistribusikan air zam zam ke beberapa tempat seperti Mina dan Arafah. Maka hari itu disebut dengan dengan hari “Tarwiyyah” (pendistribusian air).

Setelah selesai pembangunan Baitullah dan pendistribusian air tersebut, maka Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah yang tercantum dalam Al Qur’an :

”Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berdoa : ” Yaa Tuhanku. jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah riski dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemdian. Allah berfirman : ” Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS: 02 : 126)

Sejak saat itulah Ka’bah sebagai pusat ziarah untuk melaksanakan haji umat Nabi Ibrahim AS dan seluruh keturunannya. Setelah perjalanan waktu, nilai ketauhidan yang dibawa Nabi Ibrahim dan nabi-nabi selanjutnya mulai diselewengkan ke ajaran paganisme yang menyembah berhala.

Ammar bin Luhay merupakan orang yang pertama kali menyebarkan ajaran menyembah berhala di seluruh Jazirah Arab.

Sejak itu, orang-orang Arab meletakkan patung dan berhala yang mereka anggap sebagai tuhan di sekitar Ka’bah. Bahkan sebagian kabilah Mekkah mempunyai mata pencaharian sebagai pembuat patung dan berhala.

Keadaan tersebut berlangsung kurang lebih sekitar 2500 tahun dan baru berubah setelah masa Rasulullah SAW. Pada tahun 630 M, Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin membebaskan Ka’bah dari ritual kaum kafir Quraisy dari ritual menyembah berhala dan menghancurkan berhala di sekitar Ka’bah.

Ada empat rukun haji, ihram disertai niat haji, wukuf di Arafah, thawaf di Baitullah, dan sa’i di Shofa dan Marwa. Dari empat rukun haji tersebut tidak hanya dimaknai dari sisi syar’i atau eksoterik saja tetapi juga perlu dipahami makna esoteriknya.

Kedalaman dalam memahami hakekat suatu perintah akan menghasilkan sebuah kedalaman spiritualitas seseorang. Tanpa penguatan dimensi esoterik dalam ritual keagamaan akan terjadi kekeringan makna dalam beragama.

Imam Malik RA dalam ungkapannya : “man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa, wa man tafaqqaha wa lam yatashawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tashawwafa faqad tahaqqaq. (Barang siapa mempelajari atau mengamalkan tasawuf tanpa fikih maka dia telah zindik, dan barang siapa mempelajari fikih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dan fikih dia meraih kebenaran).”

Rasulullah SAW hadir untuk menata ulang bangunan keagamaan yang dibawa para nabi sebelumnya dikarenakan sudah diselewengkan oleh sebagian umatnya, termasuk dalam pelaksanaan ibadah haji yang sudah jauh keluar dari nilai-nilai ketauhidan, bahkan sudah menyimpang ke dalam bentuk paganisme.
Haji bertujuan mengembalikan hakekat kesadaran kemanusiaan bahwa manusia adalah sebuah mikrokosmos dari hamparan makrokosmos yang dicipta tiada lain hanya untuk menyembah .

“Tidaklah aku ciptakan Jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah” ( QS: 51: 56).

Dalam melasanakan wukuf di Arafah semua jemaah haji harus menggunakan pakaian ihram adalah sebuah simbol pengakuan persamaan diri dengan orang lain dan sekaligus menyatakan secara jujur akan segala kelemahan diri, bahwa manusia harus melemparkan atribut duniawinya untuk mencapai puncak keutuhan spiritualnya dengan satu tujuan yang fundamental dalam sebuah keikhlasan dalam ubudiyah, seperti termaktub dalam surat al Bayinah ayat 5:
“Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah dengan ikhlas menaatinya hanya semata-mata karena menjalankan agama.” (QS: 98:5)

Wukuf membentuk manusia yang mampu menghargai keberagaman identitas kemanusiaan (budaya, suku dan kebangsaan) untuk satu tujuannya adalah sebuah pengabdian total kepada Tuhan.

Jadi perbedaan dan keragaman di dunia hanyalah sebuah keniscayaan dinamika kemanusiaan dalam menjalani sejarah kemanusiaanya. Manusia tidak semestinya harus merasa diri atau kelompoknya merasa paling mulia dan tinggi derajat status sosialnya dari yang lain.

Hal tersebut pernah terjadi pada masa sebelum Rasulullah SAW ada sekelompok manusia (yang dikenal dengan nama al-hummas) yang merasa memiliki keistimewaan sehingga enggan bersatu bersama orang banyak dalam momen wuquf. Mereka wuquf di Masy’aril Haram (Muzdalifah) sedangkan orang banyak melakukan wuquf di Arafah. Seperti yang disebutkan dalam surat al Baqarah 196-199 ;

“Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat; Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: 02: 196 – 199)

Menurut Prof. Nazarudin Umar, salah satu makna spiritual ibadah haji ialah melatih batin kita untuk mengerti, memahami dan menghayati makna tersirat di balik segala sesuatu yang tersirat. Sehubungan dengan ini, menarik untuk dihayati lebih dalam firman Allah SWT;

“Dan, dari mana saja kamu ke luar maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan, Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Baqarah :02:149).

Nilai-nilai kemanusiaan universal yang terdapat dalam setiap rukun ibadah haji yaitu ibadah haji diawali dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram.

Tidak ada perbedaan status sosial dan lain-lain karena perbedaan pakaian yang dikenakan. Hal ini menunjukkan juga bahwa seluruh manusia pada dasarnya sama di mata Allah kecuali atas dasar ketakwaannya.

Ibadah haji mengungkapkan hakekat keberadaan manusia dalam posisi sebagai hamba dituntun untuk merekontruksi rotasi kehidupan spiritualnya dengan sikap tasamuh, tawazun, tawassut (toleran, seimbang, moderat) dalam berinteraksi sosial dan menjulang kokoh dalam pancaran nur ilahi dengan kekuatan ketakwa’an yang dinamis. Dengan keselarasan tersebut akan terwujud sebuah tatanan masyarakat ideal, masyarakat madani, masyarakat yang berperadaban. (*)

*) Penulis adalah JFU Penyusun Bahan Pembinaan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Kaltara