Bulungan

Gurihnya Daun Bekai Sebagai Pengganti Penyedap Rasa

DAUN BEKAI – Daun micin biasa warga setempat menyebut. Daun ini merupakan daun pengganti penyedap rasa khas Long Beluah. (Foto : Nurjannah/ Koran Kaltara)
  • Mengenal Bumbu Tradisional di Era Bumbu Kemasan Serba Instan

Hampir seluruh bumbu dapur, saat ini diramu dengan bungkus.  Bumbu instan. Alasan lebih praktis, salah satu yang sering diungkap oleh sebagian masyarakat. utamanya bagi kaum hawa yang hampir setiap saat bercengkrama dengan dapur. Penyedap rasa, adalah bumbu yang tak pernah absen mengisi deretan bumbu saat mengolah masakan. Lalu pernahkah terpikirkan jika bumbu penyedap instan itu bisa diganti daun?  Ini ada di Bulungan. Daun Bekai khas suku dayak. Seperti apa? Berikut ulasannya.

ADALAH Daun Bekai, pengganti penyedap rasa yang masih digunakan oleh sebagian masyarakat suku dayak kayan di Desa Long Beluah, Kecamatan Tanjung Palas Barat, Bulungan, Kalimatan Utara. Masyarakat setempat tidak asing lagi  dengan daun tersebut. Digunakan sebagai pengganti penyedap saat mengolah masakan.

Menurut keterangan warga, Daun Bekai lebih gurih dicampur saat mengolah masakan. salah satunya untuk memasak daun singkong tumbuk, yang dicampur dengan terong pipit (lenca), ataupun daun pepaya.

Pekan lalu, penulis bekesempatan menemui sejumlah ibu-ibu setempat yang biasa mengolah masakah dengan mencapur daun bekai. Daun Bekai dulunya tumbuh hutan dan perkebunan milik warga, dan saat ini juga tumbuh dipekarangan rumah-rumah warga.

Daun bekai memiliki pohon layaknya tumbuhan pada umumnya. Bentuk daun mirip dengan daun sirih yang biasa juga digunakan untuk menginang (bersirih). Daun itu digunakan sejak puluhan tahun silam mulai dari nenek moyang masyarkat setempat.

“Kami biasa masak campuran daun ubi (singkong) tumbuk.  Campur juga daun kates (pepaya), tambahan bumbunya ya daun micin itu (daun bekai),” ujar Regina, salah satu warga yang masih menggunakan daun bekai dalam menghidangkan makanan bagi keluarganya.

Agar lebih gurih, selain daun Bekai atau yang juga disebut daun micin, masakan itu juga dicampur dengan bumbu tradisional lainnya, seperti jahe. Kenikmatan masakan khas ini semakin bertambah, sebab cara memasak yang unik, memasak tidak menggunakan  kompor bebahan bakar minyak apalagi gas.

Sebagian besar masyarakat di Long beluah masih menggunakan tungku dan kayu bakar. Aroma khas jahe tercium saat proses memasak, pun demikian saat dihidangkan.

Rasa gurih daun Bekai ternyata benar adanya. Bahkan tidak kalah dengan bumbu penyedap instan yang saat ini menghantui esksitensi daun bekai itu. “Tapi sekarang banyak yang pakai bungkusan (bumbu instan), kan tinggal tuang saja. kalau daun kan harus ambil dulu. Apalagi anak-anak sekarang jarang yang pakai itu (daun bekai),” kata Bu Helis, warga lain sambil sesekali menyahut ketika ia menunjukkan cara memasak dengan menggunakan daun Bekai.

Tak hanya di Long Beluah, daun Bekai juga ditemui di beberapa daerah di Kalimantan. Seperti Berau, Malinau dan wilayah pedalaman lainnya.

Dikutip di laman resmi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, nama ilmiah dari daun Bekai adalah (Pycnarrhena tumefacta Miers).

Oleh masyarakat Long Beluah, daun bbekai bukan hanya sebagai penyedap masakan biasa saja. Daun Bekai juga diyakini dapat melembutkan daging. Ini tentu bisa menjadi pilihan ibu-ibu pasalnya saat memasak daging tak jarang dikeluhkan karena daging masih alot dan tidak empuk.

Hal itu diakui oleh Yohanes Lihiyu, yang juga masyarakat Long Beluah. enurutnya dengan daun bekai memasak daging lebih mudah. “Kalau untuk daging cepat itu. Bisa lemah (lembut) dagingnya,” kata ibu itu.

Memiliki banyak manfaat, dan satu yang pasti tanpa pengawet, daun Bekai lambat laun bisa saja tergerus dengan adanya bumbu kemasan yang siap pakai. Namun perlu juga dicatat, nyatanya saat ini, dengan trend kuliner yang ada menunjukan kecenderungan masyarakat untuk memilih jenis kuliner dengan kualitas tinggi dan memiliki manfaat lain. Misalnya manfaat menjaga kesehatan. Agar hal itu bisa terwujud, penambahan bahan ter tertentu dalam sajian kuliner/makanan lazim dilakukan.

Di sisi lain, perkembangan dan tingkat ekonomi masyarakat saat ini juga dapat menumbuhkan kesadaran bahwasanya tambahan zat aditif pada bahan makanan. Mulai bergeser dari bahan sintesis pabrik, seperti MSG (Monosodium Glutamat) menjadi bahan-bahan alami, Contoh bahan tambahan makanan alami (herbal) yang banyak dikenal luas. Namun begitu bahan-bahan alami pun saat ini sudah sebagian besar diolah instan berpengawet, seperti kunyit, jahe dan beberapa bumbu dapur lainnya.

“Daun ini (Bekai) ada dua bentuknya, di sini (Long Beluah) ada semua. Kalau dikeringkan bisa itu, dan juga bisa dikemas untuk dijual misalnya agar lebih praktis,” tambah Merry, yang saat ditemui juga memasak panganan khas dengan menggunakan daun Bekai sebagai bumbu penyedapnya.

Tentunya kekayaan alam tak pernah habis memanjakan manusia. Namun masih sebandingkan rawat para makhlus atas alam semesta dan segala isinya, kita masih bisa mewariskan daun bekai yang pastinya sehat tanpa pengawet untuk generasi penerus.

B2P2EHD, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menyebutkan, penggunaan esktrak daun Bekai pada masakan memiliki multi fungsi, yaitu sebagai biovetsin dan antikanker. Tingginya nilai antioksidan membuat daun Bekai berpotensi meningkatkan ketahanan tubuh yang berfungsi sebagai antikanker. Oleh karena itu daun Bekai dapat digolongkan dalam Marjan (bahan berharga) yang berasal dari hutan Kalimantan. (*)

Reporter : Nurjanah
Editor : Eddy Nugroho