Ekonomi Bisnis

Gula Langka, Satgas Turun Tangan

Kasat Reskrim AKP Ganda Patria Swasika
  • AKP Ganda: Ada Keterbatasan Impor Gula dari Pusat

TARAKAN, Koran Kaltara Kelangkaan gula menjadi keluhan masyarakat di media sosial sejak beberapa hari terakhir. Bahkan, dari salah satu warga sempat memposting sulitnya mencari gula kiloan di hampir semua toko kecil dan supermarket yang ada di Tarakan.

Satgas Pangan Polres Tarakan yang diketuai Kasat Reskrim AKP Ganda Patria Swastika pun sudah turun tangan untuk menindaklanjuti langkanya gula ini. Dikonfirmasi usai upacara HUT Bhayangkara, kemarin (10/7/2019) Ganda mengaku sudah memperoleh informasi masalah gula yang langka ini.

“Tim sudah turun ke lapangan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) penyebab langkanya gula ini,” ujarnya.

Hasilnya, permasalahan langkanya gula di Tarakan karena dari Badan Urusan Logistik (Bulog) di pusat belum melakukan impor gula. Ia menyebutkan, karena ada keterbatasan impor dari pemerintah pusat dan Kementrian, belakangan gula yang masuk ke Indonesia masih menunggu. Sehingga, gula yang masuk ke Indonesia sedang kekurangan stok, terdampak hingga ke daerah.

“Apalagi wilayah Tarakan ini sulit tertangkau dari akses darat. Sedangkan, konsumsi gula cukup tinggi sehingga menyebabkan kelangkaan gula,” imbuhnya.

Pihaknya pun sudah berkoordinasi dengan pemkot dan berkomunikasi dengan wali kota. Ternyata, permasalahan gula ini memang berasal dari kebijakan pusat. Sementara, daerah hanya menyesuaikan stok yang tersedia di Bulog untuk didistribusikan lagi ke masyarakat.

Di masyarakat pun, saat ini kembali beredar gula ilegal asal Malaysia. Karena sulitnya mendapatkan gula, akhirnya masyarakat memilih untuk membeli gula ilegal ini, meskipun dari sisi kualitas tidak terjamin apakah bisa dikonsumsi langsung atau tidak.

“Kalau saya menyebutnya gula rafinasi. Jadi belum ada pemeriksaan dari BPOM (Balai Pengawas Obat dan Makanan), apakah gula yang masuk melalui jalur ilegal ini layak konsumsi. Karena, dari hasil pemeriksaan kami di lapangan mayoritas gula yang dimasukkan secara ilegal ke Tarakan dari Malaysia ini, sebenarnya bukan gula konsumsi masyarakat langsung, tetapi gula industri,” ungkapnya.

Peruntukkannya untuk industri, tetapi diselundupkan akhirnya dikonsumsi langsung oleh masyarakat. Ada perbedaan juga untuk gula selundupan ini, yang butirannya lebih besar dan putih. Sementara, untuk gula konsumsi masyarakat lebih kecil dan warnanya lebih gelap dan buram.

“Kelihatan sebenarnya antara gula rafinasi dan konsumsi itu. Kalau kami temukan adanya gula ilegal ini di lapangan, bisa dikenakan Undang-undang tentang perdagangan dan Undang-undang perlindungan konsumen,” katanya.

Ia pun mengaku sudah bersinergi dengan pemkot dan dibantu BPOM untuk menertibkan gula-gula yang masuk secara ilegal ke Tarakan. Pihaknya juga melakukan pengecekan, jika ditemukan adanya penimbunan gula oleh oknum tertentu. “Permasalahannya ada di tingkat pusat, tapi kami tetap melakukan pengawasan di daerah,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Kaltara, Hartono mengatakan pihaknya masih akan berkoordinasi dengan Bulog terkait langkanya gula di Tarakan. Hanya saja, kata dia sebenarnya permasalahan gula ini ternyata tidak terjadi di daerah lain, di Kaltara.

“Setahu saya, di Bulungan masih banyak dan tidak ada gejolak, stok masih banyak. Karena, Bulungan kan dekat dengan Berau dan bisa diakses melalui jalur darat. Masalah di Tarakan ini kami belum ada dengar, tetapi akan kita coba berkoordinasi dengan Bulog, karena memang tugas Bulog menyuplai gula dan beras,” ungkapnya. (*)

Reporter : Sahida

Editor : Rifat Munisa