Ekonomi Bisnis

FESyar KTI Lebih Mengenalkan Ekonomi dan Keuangan Syariah

Foto: Ilustrasi/Internet

TARAKAN, Koran Kaltara Tahun ini, Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) akan digelar di Kota Seribu Sungai, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perhelatan FESyar ini merupakan yang ketiga kalinya, setelah di tahun 2017 dilaksanakan di Makassar, Sulsel dan tahun lalu digelar di Balikpapan, Kaltim. Anggota Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi dijadwalkan akan membuka acara pada 12 September nanti.

Tema yang akan dihelat tahun ini, bergerak bersama ekonomi syariah diharapkan bisa lebih mengenalkan ekonomi dan keuangan syariah. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalsel, Herawanto menerangkan sebenarnya ekonomi syariah ini bukan merupakan suatu konsep secara ekslusif, hanya ditujukan untuk umat Islam saja.

“Ekonomi dan keuangan syariah ini merupakan seuah konsep yang inklusif, bahkan secara aktif dapat melibatkan seluruh masyarakat dalam roda perekonomian,” ujar Herawanto, dalam konferensi video di Kantor Perwakilan BI Kaltara, Selasa (10/9/2019).

Ia menambahkan, maksud ekonomi syariah ini untuk menjunjung tinggi nilai keadilan, kemaslahatan, kebersamaan, keseimbangan seperti nilai kebijakan lainnya. Prinsip dasar ekonomi dan keuangan syariah, salah satunya mencegah penumpukan harta dengan mendorong pendistribusian harga secara produktif, dalam aktivitas perekonomian yang sesuai dengan prinsip syariah.

Dengan ekonomi syariah ini, diharapkan dapat mengakomodir seluruh kegiatan yang dilakukan masyarakat, tanpa memandang suku, agama dan ras. Bahkan, untuk mengembangkan ekonomi syariah, dilakukan melalui pendekatan pengembangan kemandirian ekonomi pesantren.

“Penunjukkan Kalsel sebagai tuan rumah FESyar KTI 2019 ini juga karena akar sejarah Kalsel, sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Nusantara,” katanya.

Selain itu, potensi Kalsel juga terbilang besar untuk mengembangkan ekonomi syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru. Dengam FESyar ini juga, Herawanto mengatakan dapat mendorong pengembagan ekonomi syariah kedepannya, agar mampu menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

“Khususnya di KTI. Kegiatan ini kan juga merupakan perwujudan dari pilar ketiga cetak biru pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Salah satunya dari sektor penguatan riset, sektor, asessmen dan sektor edukasi,” jelasnya.

Dari manfaat yang didapatkan melalui ekonomi dan keuangan syariah ini, sudah seharusnya disampaikan ke seluruh masyarakat, tidak hanya melalui kegiatan yang diselenggarakan BI bekerja sama dengan Kementrian Perdagangan ini.

“Harapan kami, kegiatan ini bisa mendorong berkembangnya ekonomi syariah sebagai salah satu motor utama, sumber pertumbuhan ekonomi baru. Serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan timur Indonesia,” tandasnya. (*)

Reporter : Sahida

Editor : Rifat Munisa