Nunukan

Empat Bulan, PAD Wisata di Setabu Capai Rp10 Juta

Anggota DPRD Nunukan, Hamsing (kanan) saat melihat kondisi mangrove di Sebatu, Jumat (14/2/2020) siang. (foto: Asrin/Koran Kaltara)

NUNUKAN, Koran Kaltara – Wisata di Desa Setabu, Sebatik Barat patut mendapatkan apresiasi. Pasalnya, wisata mangrove yang baru diresmikan sekitar 4 bulan lalu, ternyata sudah berhasil Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp10 juta.

Hal ini dibenarkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dapil Sebatik Hamsing saat melihat potensi wisata dan PAD, Jumat (14/2/2020) siang.

“Sebenarnya, di Desa Setabu sangat banyak potensi wisata yang bisa dijadikan sumber PAD. Daerah lain juga bisa mengembangkan potensi di daerahnya,” terangnya.

Seperti kawasan konservasi mangrove dan taman bebatu BAIS. Kemudian, air terjun dan cagar alam di Lappio.

“Mereka membangun wisata mangrove dapat bantuan anggaran provinsi melalui Satker dari program PISEW. Sekarang, Desa Setabu juga membuat taman dengan menggunakan dana ADD,” tambahnya.

Dia mengapresiasi inovasi Desa Setabu yang bisa menarik PAD. Ini bisa menjadi contoh desa-desa lainnya untuk terus mengembangkan wisatanya.

“Sekarang saja, baru kurang lebih 4 bulan diresmikan sudah ada Rp10 juta PAD yang masuk,” tuturnya.

Dia mengatakan wisata mangrove ini masih perlu ditingkatkan. Salah satunya, memperpanjang jembatan. “Saya kebetulan dari Musrenbang. Dan, langsung singgah melihat kondisinya wisata. Karena jembatannya baru sekitar 300 mter, jadi masih kurang panjang sekitar 400 meter,” bebernya.

Dia berharap Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat lebih memperhatikan wisata di perbatasan Kabupaten Nunukan, khususnya pulau Sebatik.

“Pengembangan wisata memang harus menjadi perhatian kita semua. Sebab, menjaga garis pantai dan hutan mangrove sangat penting,” tandas dia. (*)

Reporter: Asrin

Editor: Sobirin