Hukum Kriminal

EM Dititip Jaksa di Lapas Tarakan

Foto: Ilustrasi/Internet
  • Tersangka Penggelapan dalam Jabatan Koperasi PT Idec Wood

TARAKAN, Koran Kaltara – Setelah tahap 2, tersangka kasus dugaan penggelapan dalam jabatan di Koperasi PT Idec Wood, EM resmi ditahan pihak Kejaksaan Negeri Tarakan dan diserahkan ke Lapas Tarakan sejak Jumat (3/5/2019) pekan lalu.

Debby F Fauzi, Jaksa yang bertanggung jawab dalam kasus ini mengungkapkan, penahanan dilakukan karena sudah memenuhi ketentuan KUHAP. Dalam pasal 21 ayat (1) KUHAP menyatakan terdakwa bisa ditahan apabila penyidik menilai atau khawatir tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti atau mengulangi tindak pidana.

Sebelumnya, saat perkara ini masih di tangan penyidik, EM sempat ditahan, namun masa tahanannya habis sementara perkara belum siap. Akhirnya EM dikeluarkan demi hukum dan kembali dilakukan penahanan di tingkat Jaksa.

“Sudah dipindah ke Lapas, sejak Jumat,” ujarnya, dikonfirmasi kemarin (8/5/2019).

Deby menambahkan, meskipun penyidik berencana meningkatkan penyidikan di internal Koperasi ini ke unit lain, namun ia mengaku belum ada pembahasan saat dilakukan tahap 2. Pembahasan dalam tahap 2, hanya soal EM dan dugaan penggelapan di unit pertokoan yang dipimpin EM.

“Kami fokus ke unit pertokoan saja. Kalau soal perkara lain yang juga di koperasi Idec itu masih kewenangan penyidik dan belum ada dibahas dengan kami,” tuturnya.

Setelah tahap 2, Jaksa memiliki waktu 20 hari untuk dilakukan penahanan dan bisa diperpanjang 30 hari di Pengadilan Negeri Tarakan. Ia menargetkan paling lama akhir Mei ini kasusnya sudah bisa dilimpahkan ke Pengadilan Negeri, untuk disidangkan.

“Kami sedang persiapkan dakwaan. Sebelum libur lebaran lah, kami siap sidangkan kasus ini,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus salah satu perusahaan plywood terbesar di Tarakan dan Kaltara ini berawal dari dugaan korupsi di koperasi yang dikelola oleh Ambo, dengan dana dari potongan gaji para karyawan. Koperasi ini sendiri memilih beberapa unit usaha, di antaranya konsinyasi, pertokoan dan simpan pinjam.

Penyelidikan polisi kemudian mengerucut ke penggelapan dalam jabatan di unit pertokoan, dengan tersangka EM dan dijerat dengan pasal 374 KUHP tentang penggelapan. Aksi EM ini diketahui setelah tim audit PT Idec menemukan ada selisih barang dan laporan dari yang sudah dilaporkan EM.

Dari hasil audit pertama, EM disebut menggelapkan uang koperasi dengan kerugian Rp 4 miliar. Namun, berdasarkan hasil audit terbaru dari Akuntan Publik Liasta, kerugian yang dilakukan EM diduga hanya berkisar ratusan juta rupiah. Dari audit kedua ini juga mengungkap ada dugaan unit lain turut menggelapkan dana koperasi hingga kerugian Koperasi seluruhnya mencapai Rp10 miliar. (*)

Reporter : Sahida

Editor : Hariadi