Headline

Ekspor Masih Lesu; Hasil Pertanian Bertumbuh

BPS mencatat kinerja ekspor Kaltara yang menurun di Bulan Oktober 2019. (Foto : Agung Riyanto/Koran Kaltara)

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kinerja ekspor Kalimantan Utara masih belum bisa tumbuh positif saat memasuki Oktober 2019. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara mencatat, ekspor secara akumulatif melalui pelabuhan dalam daerah, menurun 1,39 persen dibanding bulan sebelumnya. Atau dari USD91,20 juta, atau setara Rp1,28 triliun (Mengacu Kurs Tengah BI 2/12 : Rp14.121) menjadi USD89,93 juta (Rp1,26 triliun).

Secara akumulatif sepanjang Januari – Oktober 2019, BPS Kaltara juga mendapati kinerja ekspor yang  terkontraksi negatif lebih dalam dibanding periode bulanan. Yakni menurun sebesar 5,21 persen dibanding waktu yang sama tahun 2018. Atau dari USD910,12 juta (Rp12,85 triliun) menjadi USD862,70 juta (Rp12,18 triliun).

Lebih detail berdasarkan klasifikasi komoditi, lesunya ekspor Kaltara berasal dari menurunnya kinerja dari komoditi tambang sebesar 5,34 persen dan komoditi hasil industri sebesar 5,62 persen. Adapun, hasil pertanian menjadi satu-satunya kelompok yang tumbuh positif sebesar 4,64 persen. Atau dari USD 15,12 juta (Rp213,50 miliar) menjadi USD15,82 juta (Rp223,39 miliar).

Berdasarkan negara tujuan ekspor utama komoditi Kaltara, diketahui nominal ekspor menuju tiga dari delapan negara yang tunjukkan penurunan. Yakni menuju India yang turun 42,32 persen, menuju Thailand yang turun 66,03 persen dan menuju Jepang yang turun 46,30 persen.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltara, Hendik Sudaryanto menilai, lesunya kinerja ekspor Kaltara di tahun 2019, tidak terlepas dari tekanan perang dagang yang masih berlangsung antara China dan Amerika.

Kondisi tersebut, secara tidak langsung mempengaruhi volume permintaan barang dari Kaltara di Pasar Global. Selain itu, kebijakan pembatasan impor dari India yang juga berlangsung di tahun ini, menambah deretan panjang faktor geliat ekspor Kaltara melemah. Terlebih harga komoditi batu bara juga terus menurun hingga akhir tahun ini.

“Secara global, ekonomi dunia mengalami dampaknya di bawah perang dagang antara China dan Amerika. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia alami penurunan. Ini yang berpengaruh besar terhadap volume perdagangan komoditas unggulan dari Kaltara, terutama batu bara,” kata Hendik, Senin (2/12/2019).

Terkait upaya perbaikan ke depan, Hendik menuturkan, pemerintah bersama stakeholder terkait harus bisa menggerakkan kinerja ekspor kelompok yang lain. Baik dari hasil industri ataupun hasil pertanian. Mengingat fluktuasi harga komoditi tersebut di pasar global masih tergolong lebih baik dibandingkan komoditi baru.

“Sektor lain ini harus digerakkan. Kaltara memang membutuhkan banyak sumber kegiatan ekonomi baru yang bisa berorientasi pasar luar negeri. Kalau tidak, saat kondisi ekonomi global belum membaik, kinerja ekspor Kaltara bisa saja terus menurun,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) Kaltara, Budi Harsono Laksono menjelaskan, pihaknya selama ini sudah memberi perhatian lebih untuk komoditi ekspor di luar hasil tambang. Baik melalui program pendampingan produksi di sektor hulu, hingga memfasilitasi kegiatan perdagangan dengan konsumen luar negeri di sektor hilirnya.

“Upaya kita memang lebih mengarah pada peningkatan ekspor di luar tambang. Jadi lebih ke hasil olahan makanan, kerajinan tangan, dan produk industri masyarakat,” ujarnya.

Mengenai belum signifikannya geliat komoditi yang dimaksud, Budi tidak menampik jika turut dipengaruhi ketidaksanggupan calon eksportir untuk memenuhi permintaan luar negeri secara berkelanjutan. Baik karena faktor ketersediaan bahan baku, skema produksi yang masih tradisional hingga kekurangan sumber daya manusia (sdm).

“Faktor-faktor tersebut yang terus kita upayakan ada jalan keluar. Teknis di lapangan juga melibatkan OPD-OPD lainnya,” ungkap Budi.(*)

Reporter : Agung Riyanto

Editor : Nurul Lamunsari