Ruang Publik

Ekonomi Kreatif Bisa Jadi Alternatif: Perbatasan Harus Tampil Beda dan Otentik

Diki Umacina
  • Oleh : M.Dicky Umacina

EKONOMI kreatif sedang naik daun. Gaung keberhasilan konsep ini sebagai akselerator pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah cukup menyita perhatian. Selain dapat menciptakan pundi-pundi rupiah yang kemudian memberi dampak positif untuk perekonomian daerah, sektor ini juga terbukti berhasil menjadi ‘senjata’ ampuh bagi pemerintah daerah dalam menuntaskan misi pengentasan angka pengangguran.

Sebagai provinsi termuda di Indonesia, Kaltara butuh akselerasi maksimal di semua sektor, termasuk ekonomi. Mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) saja tidak cukup untuk menjamin kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Berharap terbukanya lapangan pekerjaan dari sektor-sektor konvensional pun akan sulit menekan angka pengangguran dikarenakan standar kompetisi yang semakin tinggi di bidang yang itu-itu saja.

Apalagi secara nasional kita akan menghadapi fenomena bonus demografi. Oleh karenanya pemerintah daerah harus mampu melahirkan gagasan atau terobosan-terobosan baru yang nantinya secara umum kebijakan itu akan menjamin stabilitas perekonomian daerah, dan secara khusus membuat masyarakat bahagia.

Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi yang utama. Ekonomi kreatif juga memiliki sejumlah subsektor strategis, seperti aplikasi dan pengembangan permainan, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa serta televisi dan radio.

Dari sejumlah subsektor tersebut, ada beberapa konsep yang secara tipologi bisa dikembangkan di Kaltara. Provinsi ke-34 ini kaya akan budaya. Banyak atraksi budaya yang sebenarnya bisa menjadi inisiator pertumbuhan ekonomi daerah.

Proses kapitalisasi ini lah kemudian diharapkan mampu melahirkan kolaborasi antar subsektor ekonomi kreatif itu sendiri. Tidak hanya itu saja, tren movement kaum muda dari berbagai latar belakang ide juga tak jarang memberi sinyal positif soal adanya gairah dan potensi ekonomi kreatif bisa berkembang pesat di Kaltara.

Apalagi, secara geografis Kaltara merupakan kawasan perbatasan dimana masyarakatnya sering melakukan aktivitas ekonomi hingga ke negara tetangga (Malaysia). Masih banyak indikator lain mengapa ekonomi kreatif sangat potensi menjadi pilar ekonomi perbatasan.

Kembali pada subsektor ekonomi kreatif yang potensial. Seperti kriya atau seni kerajinan yang berbahan kayu, logam, kulit kaca, keramik dan tekstil. Produksi dari sektor ini biasanya adalah barang buatan tangan yang identik dengan kearifan lokal. Di Kaltara kita punya beberapa kerajinan contohnya mandau dan tameng dari Suku Dayak sebagai salah satu potensi yang bisa dimaksimalkan. Ada juga beberapa cinderamata khas Kaltara yang sayangnya hanya muncul pada momen-momen tertentu saja.

Di sektor fashion juga kita sebenarnya tak kalah saing dengan daerah lainnya. Sebagai contoh kain batik Bultiya (Bulungan, Tidung, dan Dayak) yang merupakan salah satu batik otentik dengan sentuhan tradisi yang merepresentasikan tiga suku asli Kaltara.

Di sisi lain, bidang pertunjukan juga tak kalah menarik untuk ditilik. Beberapa festival baik tradisi maupun kontemporer juga menelurkan catatan manis. Sebut saja Festival Irau Tengkayu yang merupakan upacara tradisional suku Tidung di Kota Tarakan serta Musik Alam Festival yang menjadi agenda rutin kelompok muda di Kaltara.

Sementara sektor kuliner juga harusnya bisa ‘disulap’ agar lebih menarik. Salah satu produk otentik yang dimiliki Kaltara adalah garam gunung Krayan. Kualitas garam yang diproduksi secara kolektif oleh warga Desa Long Midang, Kecamatan Krayan ini sudah sangat eksis bahkan hingga ke negeri jiran.

Untuk subsektor seni rupa dan desain interior juga geliat pelakunya sudah mulai bermunculan. Hal ini nampak pada proses kreatif dibeberapa titik, baik itu tempat-tempat usaha (cafe, kedai, dan lain-lain) hingga ruang publik seperti taman.

Melihat sejumlah peluang tersebut, sayang rasanya jika pemerintah daerah tidak menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu katrol perekonomian daerah. Persoalan yang terjadi saat ini hanyalah minimnya koordinasi dan kolaborasi untuk mengembangkan sektor yang sudah ada atau menciptakan  subsektor-subsektor baru.

Pemerintah daerah sebagai agent of development seyogianya membuat sebuah masterplan yang kemudian didorong menjadi sebuah produk hukum berbentuk regulasi yang berfungsi untuk mengatur semua persoalan mulai dari hulu hingga hilir sektor tersebut.

Peluang ini tentu berbanding lurus dengan keseriusan pemerintah pusat yang juga tengah fokus pada pengembangan sektor ekonomi kreatif. Hal ini ditandai dengan pembentukan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) dibawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif (Kemenparekraf) oleh Presiden RI Joko Widodo.

Dengan peleburan dua lembaga ini, pemerintah memberi sinyal adanya kesungguhan untuk meningkatkan koordinasi serta pelaksanaan program di lapangan. Artinya, pemerintah daerah tidak akan Kerepotan dalam realisasi rencana besar sektor ekonomi kreatif di Kaltara.

Tidak ada salahnya jika kita berandai-andai Kaltara menjadi “Kota Kreatif “ yang tidak hanya berkembang secara fisik, namun juga terjamin keberadaan ekosistemnya. Ekosistem itu terdiri dari keberadaan lembaga pendidikan formal dan informal, industri/jasa-jasa pendukung yang diperlukan, SDM dan talenta, teknologi, konektivitas digital dan internet, jaminan pembiayaan, akses pasar serta kebijakan pemerintah yang kondusif. Baik tingkat pusat maupun daerah.

Untuk merespon dinamika dan fenomena ekonomi, Kaltara memang harus tampil beda. Selain harus bisa memanfaatkan teknologi secara maksimal, produk kreatif yang dihasilkan juga harus otentik. Karakteristik Kaltara harus dimunculkan pada setiap segmen.

Butuh keterlibatan semua pihak untuk membangun sebuah kesepahaman dan kesepakatan soal karakter model seperti apa yang ingin kita terjemahkan sebagai representasi Kaltara. (*)

*) Penulis adalah pegiat komunitas di Tanjung Selor