Ekonomi Bisnis

Disperindagkop Terus Jaga Kualitas Barang di Pasar

Foto: Ilustrasi/Internet

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disprindakop) dan UMKM Kaltara Hasriyani, mengatakan  komoditas yang masuk dan keluar Kaltara hingga saat ini terus dijaga kualitasnya.

Adapun komoditas yang masuk dan keluar kata dia, melihat produk apa saja yang ada dari Kaltara yang memang bisa diperdagangkan ke wilayah lain seperti pulau Jawa. Dia yakin ada provinsi yang tidak memiliki potensi sumber daya alam seperti yang ada di Kaltara.

Pada tahun lalu hingga saat ini dijelaskan, provinsi termuda ini masih mengandalkan pasokan kelompok bahan makanan dari lima provinsi. Di antaranya; Balikpapan, Samarinda dan Berau yang ada di Kaltim. Untuk kebutuhan daging ayam, gula pasir dan telur dari Bulog sebab gudang Bulog yang ada saat ini sudah memiliki gudang yang sangat mendukung .

Sedangkan kebutuhan beras dan kentang diakuinya, mayoritas disuplai dari Surabaya, Jawa Timur. Termasuk bawang merah maupun bawang putih. “Sesuai pemetaan alur distribusi kebutuhan pokok, maka Kaltara didukung oleh lima provinsi,” ujarnya Rabu, (10/7/2019)

Lanjut kata dia,  Laporan matriks pemetaan bahan pokok Kaltara pada 2018 lalu, kata Hasriyani, berada dalam indikator surplus. Ketersediaan sembako di Kaltara mempunyai kuota cadangan setelah dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat. “Dari sisi pengawasan, kami menjaga agar kualitas barang yang diterima masyarakat tidak merugikan mereka,” ujarnya pada Koran Kaltara.

Sebab kepuasan pelanggan sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya sebuah bisnis, baik perdagangan barang maupun jasa. Banyak perusahaan berlomba-lomba mempertahankan loyalitas dan kepuasan pelanggan untuk memperluas jaringan bisnis dan penjualan. Kepuasan pelanggan tidak dapat tercipta dengan mudah karena membutuhkan proses yang cukup panjang.

Selain itu, adanya rencana investasi di sektor pertanian. Maka lambat laun bisa memunculkan produsen lokal yang dapat berperan substitusi dari pemasok luar daerah. Bahkan, kata dia, produk dalam daerah berpotensi lebih murah. (*)

Reporter : Ike Julianti

Editor : Rifat Munisa