Nunukan

Disdikbud Nunukan Bakal Verifikasi 12 Ribu Anak Putus Sekolah

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Nunukan, Widodo.

NUNUKAN, Koran Kaltara – Berdasarkan data dari Kemendikbud, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Nunukan akan melakukan verifikasi 12 ribu anak putus sekolah di perbatasan.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Nunukan, Widodo kepada Koran Kaltara, Jumat (21/2/2020).

Dia mengatakan, data 12 ribu anak putus sekolah itu masih sebatas suspek (terduga) anak putus sekolah. Sehingga perlu diverifikasi by name by address.

“Kategori anak tidak sekolah itu umur 5 tahun sampai 18 tahun yang belum masuk di dapodik sekolah,” terangnya.

Menurut dia, berbeda dengan data siswa miskin yang sudah masuk dapodik. Ada sekitar 9 ribu anak. “Jadi, tugas kami, pertama melakukan verifikasi 12 anak putus sekolah, apakah benar putus sekolah? atau jumlah tidak sampai segitu,” bebernya.

Dia memiliki keyakinan setelah melakukan verifikasi, jumlah anak putus sekolah bisa di bawah 12 ribuan.

“Karena apa? Ada anak-anak ber-KTP dan KK orang tuanya masih di Nunukan, tapi si anak sudah berada di luar Nunukan. Misalkan, di Tawau, Malaysia, tapi masih terdata di Disdukcapil. Jadi, problem seperti itu,” bebernya.

Dia mengatakan, bahwa Disdikbud Nunukan telah mengucurkan alokasi anggaran sebesar Rp500 juta. Ditambah sekitar Rp500 juta untuk pendidikan di PAUD. “Totalnya ada Rp1 miliar. Nah, kalau kami hitung Rp 500 juta ini bisa mengakomodir sekitar 600 anak. Di PAUD juga kurang seperti itu,” tambahnya.

Menurut dia, setidaknya ada sekitar 800 anak sekolah yang akan mendapatkan bantuan seragam dari Baznas.

“Tapi ini untuk SD dan SMP. Tidak tahu kalau PAUD. Saya sudah informasikan ke sekolah-sekolah untuk mendata yang menerima,” ujarnya.

Dia mengharapkan bantuan masyarakat, khusus masyarakat kalangan menegah ke atas yang ingin menjadi sponsor menyekolahkan anak putus sekolah.
“Karena, kalau anggaran pemerintah tidak akan cukup. Katakan lah ada 8 ribu anak, jadi terlalu berat kalau bergerak sendiri,” bebernya. (*)

Reporter: Asrin

Editor: Sobirin