Ekonomi Bisnis

Di Kalimantan Hanya Dua Kota yang Alami Deflasi

Imam Sudarmadji
  • Tarakan Salah Satunya

TARAKAN, Koran Kaltara Selama Januari 2020 terdapat dua kota di pulau Kalimantan yang alami deflasi, yaitu Tarakan dan Palangkaraya. Hal ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, dengan melihat Pola Konsumsi Masyarakat Indonesia (PKMI) 2018.

“Bulan Januari ini kota Tarakan mengalami deflasi sebesar 0,07 persen dimana di Kalimantan ini hanya ada 2 kota yang mengalami hal yang sama yaitu Palangkaraya. Untuk di Kalimantan Utara ada dua daerah yang menjadi pusat pengambilan data sebagai acuan statistik, yaitu Tarakan dan Tanjung Selor,” terang Kepala BPS Tarakan, Imam Sudarmadji.

Dikatakannya, selama 2020 PKMI yang digunakan sebagai tolak ukur inflasi maupun deflasi di Tarakan menggunakan PKMI 2018 yang menjadi update terbaru pengelompokan dan pengolahan data statistik. Sebelumnya, Tarakan masih menggunakan pola PKMI 2012 yang sudah tidak relevan lagi karena banyak perubahan pola konsumsi seperti transportasi online, dan lain sebagainya.

“Kita sudah gunakan PKMI 2018, karena disitu ada tarif listrik, beras, bensin, angkutan udara, daging ayam, sewa rumah, rokok, yang nilai bobotnya cukup tinggi di antara sekitar 300 komoditas yang menjadi acuan,” paparnya.

Dari 11 kelompok dengan nilai tertinggi hanya 1 yang mengalami inflasi yaitu angkutan udara, sedangkan 10 lainya lebih cenderung mengalami penurunan harga. Sehingga berdasarkan penghitungan data, lebih mengarah ke deflasi dibandingkan inflasi.

Untuk di Desember 2019 lalu, angkutan udara masih mendominasi sebagai penyebab inflasi karena masyarakat Tarakan dan Kaltara masih mengandalkan maskapai penerbangan sebagai moda transportasi untuk bepergian keluar kota.

“Angkutan udara itu bobotnya mencapai 03,23 persen, tarif listrik 5 persen, beras 4 persen, dengan demikian angkutan udara masuk dalam 4 besar komoditas yang berpengaruh sepanjang tahun terhadap inflasi mapun deflasi di Tarakan. Komoditas ini menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan,” ucapnya.

Namun, tantangan ke depan diprediksi terjadi cuaca ekstrem yang dapat mempengaruhi distribusi barang. Apalagi kebutuhan pokok di Tarakan sebagian besar masih disuplai dari Jawa maupun Sulawesi.

“Di saat tertentu harga cabai bisa mencapai Rp120 ribu, itu biasanya karena cuaca yang tidak baik sehingga pengiriman terhambat. Kondisi seperti ini akan memacu terjadinya inflasi karena kedatangan bahan makanan terganggu, sehingga terjadi spekulasi dan kenaikan harga yang sulit terkontrol,” beber Imam. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa

Editor: Rifat Munisa