Tana Tidung

Desa di Pesisir Masih Andalkan Air Sungai

Foto: Ilustrasi/Internet
  • Penuhi Kebutuhan Air Bersih

TANA TIDUNG, Koran Kaltara – Ketua Komisi I DPRD, Sri Jahasaniah menyebutkan, banyak desa di pesisir yang sampai sekarang ini masih mengandalkan air sungai guna memenuhi kebutuhan air bersih mereka setiap harinya, padahal warga pedesaan sangat memahami air sungai tidak dapat menjamin kebersihan dan tidak menjamin air benar-benar steril, namun karena kebutuhan mendesak terpaksa air sungai pun digunakan.

“Kita ketahui bersama air sungai kerapkali dilewati aktivitas transportasi sungai seperti kapal maupun speed boat yang mungkin Bahan Bakar Minyak (BBM) tercecer di sepanjang perjalanan mereka, ataupun adanya limbah industri dari sejumlah perusahaan, air sungai memang tidak diketahui apakah steril atau tidaknya dari segi kesehatan, tapi karena kebutuhan mau tidak mau saja lagi dipakai,” ujar dia, Jumat (21/2/2020) kemarin.

Menurut dia, sarana air bersih di kawasan pesisir pun mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah supaya warga pesisir tidak terlalu bergantung pada air sungai lagi, sungai dipastikan hanya digunakan untuk aktivitas perikanan saja, permintaan untuk sarana air bersih dia peroleh dari berbagai kunjungan kerja (kunker) dan reses beberapa waktu yang lalu.

“Permintaan untuk air bersih bukan beberapa minggu yang lalu, tapi sudah bertahun-tahun yang lalu, permintaan warga hanya terserap dan sulit direalisasikan sebab persolan pengangkutan dan pemasangan material jika semuanya masih dilakukan melalui jalur sungai, artinya jalur darat belum ada saat itu dan bukan perkara mudah bagi pemerintah mewujudkan kebutuhan warga yang berada di pesisir akibat jalur sungai,” terang dia.

Akan tetapi, dalam satu tahun belakangan jalur darat semakin mudah dilalui sehingga muncul harapan warga khususnya yang berada di pesisir untuk diadakannya air bersih melalui jaringan PDAM, desa yang masih menggunakan air sungai setiap harinya yakni Desa Bandan Bikis, Desa Menjelutung dan Desa Sengkong di Kecamatan Sesayap Hilir sedangkan Desa Bebatu sudah memiliki embung yang memudahkan warga mendapatkan air bersih.

“Selain air sungai, beberapa desa di pesisir ini mengharapkan air hujan tapi tidak setiap hari air hujan turun, kecuali musim penghujan, kita sangat berharap pengoperasian air bersih dari PDAM dapat dilakukan di desa pesisir supaya warga tidak lagi mengambil air sungai yang kita tahu tidak dapat menjamin kesehatan dan kebersihannya, sekarang ini jalur darat sudah bisa digunakan maka sudah pasti warga pun mengharapkan air PDAM bisa beroperasi, berbeda beberapa tahun yang lalu dimana semua aktivitas dilakukan melalui jalur sungai atau laut saja,” harap dia.

Permintaan akan air bersih ini dibenarkan oleh salah satu warga Desa Sengkong, Rahman yang mengakui air sungai yang diambil oleh warga selama ini memang tidak steril tapi warga biasanya akan memberi obat air yang membuat air sungai tadi terlihat jernih dan tidak berbau, dimana sebelumnya air sungai tadi diendapkan selama semalaman.

“Awal-awal menggunakannya kami mengalami alergi gatal-gatal, airnya kadang keruh dan ada bekas oli di air, airnya bau dan dipakai selama berbulan-bulan kulit terasa kering, gigi kuning dan menghitam, tapi karena kebutuhan mau tidak mau kami pasti ambil,” tukas dia.

Ditambah lagi, pengambilan air sungai harus dilakukan dengan menggunakan mesin pompa air yang harganya antara Rp 700 ribu sampai Rp 1,5 juta dengan bantuan listrik atau mesin genset cadangan yang membutuhkan BBM dan ini belum termasuk biaya perawatan mesin, karena besarnya biaya operasional tersebut maka warga pesisir pun sangat berharap ada pemasangan air PDAM di rumah mereka. (*)

Reporter: Hanifah

Editor: Nurul Lamunsari