Kaltara

Dekat dengan Sesar Palu Koro, Tarakan Berpotensi Gempa dan Tsunami

Tenda pengungsian yang dibangun oleh BPBD Tarakan saat terjadi musibah kebakaran di Karang Anyar Pantai. (Foto: Dokumen/Koran Kaltara)

TARAKAN, Koran Kaltara – Wilayah Tarakan yang menjadi bagian dari Kalimantan Utara, secara geografis berada pada posisi berdekatan dengan sesar Palu Koro, yang merupakan salah satu patahan lempeng bumi. Sehingga dinilai cukup rentan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Oleh karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan telah menyiapkan 9 titik pengungsian, sebagai antisipasi jika bencana tersebut terjadi.

“Memang haluannya kita berada di jalur sesar Palu Koro, hal ini kita ketahui setelah ada kejadian di Palu dan sekitarnya. Makanya kita siapkan 9 titik pengungsian. Di antaranya di UBT, STIE Bulungan Tarakan, Stadion Datu Adil, Gunung Selatan, lapangan golf, dan beberapa titik di Tarakan Utara,” terang Kepala BPBD Tarakan, Abdul Azis, Rabu (12/6/2019).

Berdasarkan sejarah, kata dia, Tarakan pernah diguncang gempa dengan kekuatan 7,1 skala rickhter. Oleh karena itu BPBD minta masyarakat tetap waspada, apalagi beberapa tahun lalu juga pernah diguncang gempa dengan kekuatan 6,1 sr.

“Kami sudah menyusun rencana kontijensi kalau terjadi gempa dan tsunami, meskipun ketinggianya hanya diperkirakan tidak lebih dari 60 centimeter tetapi ini berbeda dengan gelombang biasa. Karena kalau tsunami tekanan doronganya besar dan bisa membawa material, hingga membuat kerusakan parah,” ucapnya.

Dalam rencana kontijensi BPBD sudah memperkirakan kebutuhan beras, BBM, air bersih, dan kebutuhan lainya saat terjadi bencana. Selain itu, ada juga hitungan berapa warga yang bakal terdampak, sehingga langkah tanggap darurat bisa cepat dilakukan.

“Kita tinggal melakukan praktek, perlu simulasi dan perlu biaya. Persoalanya perlu duit. Karena kita harus buka dapur umum, menyuruh warga betul-betul melakukan simulasi seolah-olah ada bencana gempa dan tsunami. Semua itu perlu biaya,” urai dia.

Disebutkan, terdapat 9 bencana yang patut diwaspadai di Tarakan. Di mana 2 di antaranya sudah dilakukan rencana kontijensinya, yaitu gempa dan tsunami sedangkan untuk bencana kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, gelombang pasang, cuaca ekstrem, dan angin putting beliung belum pernah dilakukan antisipasi.

“Kajian resiko baru kita lakukan terhadap gempa dan tsunami, yang lainya belum. Seharusnya kita susun semua potensi bencana dan penanggulanganya. Setelah itu baru ada namanya rencana kontijensi setiap item bencana,” imbuh Azis. (*)

Reporter : Sofyan Ali Mustofa

Editor : Eddy Nugroho