Bulungan

Daya Tarik Wisata Air Terjun La’as di Pimping

Air terjun La’as, salah satu objek wisata di Bulungan yang bisa dikembangkan untuk menarik wisatawan. (Foto : Nurjannah/ Koran Kaltara)
TANJUNG SELOR, Koran Kaltara- Banyak objek wisata di Bulungan yang potensial untuk dikembangkan. Namun sayang, karena terkendala sarana dan prasarana, serta akses untuk transportasi hampir semua objek wisata di daerah ini sulit dijangkau. Salah satunya air terjun La’as yang berada di Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara. Sejuk dan rindang, itu yang pertama terbayang saat…

TANJUNG SELOR, Koran KaltaraBanyak objek wisata di Bulungan yang potensial untuk dikembangkan. Namun sayang, karena terkendala sarana dan prasarana, serta akses untuk transportasi hampir semua objek wisata di daerah ini sulit dijangkau.

Salah satunya air terjun La’as yang berada di Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara.

Sejuk dan rindang, itu yang pertama terbayang saat berniat mengunjungi salah satu objek wisata ‘tersembunyi’ di Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara.

Namun bayangan yang indah itu baru akan terwujud dengan perjalanan yang tidak mudah. Jalan menuju lokasi berkelok, licin, berbatu, hingga harus melewati aliran sungai.

Koran Kaltara berkesempatan mengunjungi air terjun La’as. Dari ibukota kabupaten, Kota Tanjung Selor, pengunjung harus menghabiskan waktu sekira 2 jam untuk sampai di Desa Pimping dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua.

Perjalanan untuk rute ini relatif nyaman. Pasalnya, kondisi jalan mulus, meskipun ada beberapa kelokan dan tanjakan.

Tiba di Desa Pimping, untuk menuju lokasi, pengunjung harus melewati jalan agregat, sekira 15 menit jika menggunakan kendaraan roda empat. Sebab jalannya sempit lebarnya hanya sekira 3 meter saja.

Selanjutnya bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan roda dua. Namun kendaraan roda dua juga hanya mampu beberapa saat, hanya sekira 15 menit karena jalan sudah tak memadai.

Setelah menggunakan berbagai kendaraan, pengunjung wajib berjalan kaki. Bagi mereka yang biasa jalan naik turun gunung, waktu 30 menit cukup untuk tiba di air terjun La’as. Namun yang belum terbiasa, bisa memakan waktu 45 menit-1 jam karena harus berhenti beberapa kali.

Dari awal masuk kawasan ini, kanan kiri jalan ada pemandangan hijau yang masih asri. Begitu juga jejeran pohon sawit karena jalan menuju air terjun merupakan kawasan perkebunan sawit milik salah satu perusahaan yang ada di Bulungan.

Tak ada tarif untuk masuk ke lokasi ini, sebab memang belum dikelola oleh pemerintah maupun pihak desa. Pengunjung bisa datang kapan saja, tentunya dengan penunjuk jalan yang berpengalaman, dari warga setempat.

Begitu sampai di lokasi, pengunjung bisa menikmati dingginya air terjun. Suara gemericik air dari atas.

Mata dimanjakan  tebing-tebing batu yang tersusun rapi. Alam menyajikan panorama luar biasa. Tempat yang sangat cocok untuk melepas penat ramainya kota sambil mengagumi keindahan anugerah Tuhan.

Meski belum banyak yang tahu, tapi ada saja orang yang datang ke lokasi. “Memuaskan, meskipun sampai rasa patah-patah badan ini, sampai di sana (air terjun) wow banget,” kata salah satu pengunjung dari luar daerah, Diana.

Sayang sekali, potensi wiasata ini tidak dikembangkan dan didukung  dengan insfrastruktur yang memadai. Tentu saja dengan pengelolaan yang maksimal, hingga promosi objek wisatanya.  (*)

Reporter: Nurjannah
Editor Edy Nugroho