Ekonomi Bisnis

Dampak Pelemahan Rupiah Bisa Terasa Sampai Daerah

Cancy Alexiana
  • Kemarin Sore, Rupiah Tembus Rp15.150 per USD

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap  dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi saat ini, dinilai bisa berdampak hingga ke daerah, termasuk Kalimantan Utara. Demikian disampaikan Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bulungan – Tarakan, Cancy Alexiana, Selasa (17/3/2020).

“Dampak melemahnya nilai rupiah akibat merebaknya virus corona di indonesia, memang akan dirasakan hingga ke daerah, termasuk Kaltara ini. Mulai dari masyarakat umum, investor, pelaku usaha dan juga pemerintah daerah. Efek domino ini terjadi karena semuanya berkaitan,” kata Cancy saat dihubungi Koran Kaltara.

Lebih detail, pelemahan rupiah setidaknya bisa meningkatkan laju inflasi karena meningkatnya biaya produksi yang harus dikeluarkan produsen atau distributor di tingkat hulu. “Terlebih lagi saat ini dikhawatirkan adanya keresahan masyarakat terhadap corona yang ditakutkan membuat kepanikan dengan aksi menimbun bahan makanan. Tentu itu akan semakin membuat inflasi membengkak,” papar Cancy.

Selain itu, efek berganda inflasi juga perlu diperhatikan. Karena berkaitan dengan penurunan daya beli masyarakat akibat harga melambung tinggi. Hal tersebut dikhawatirkan bisa membuat usaha skala mikro, kecil dan menengah mengalami gulung tikar.

“Harus dipahami bahwa inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat yang akan berimbas pada usaha usaha di daerah. Banyak pelaku usaha yang akan kesulitan dan mengalami kerugian akibat menurunnya daya beli masyarakat tersebut. Terutama pelaku usaha dengan modal yang tidak cukup besar, seperti UMKM. Adapun ketika ternyata modal UMKM ini dari pinjaman bank, bisa membuat angka kredit macet daerah meningkat dan mengganggu kesehatan dunia perbankan,” jabar Cancy.

Berkaitan gambaran tersebut, Cancy menilai memang perlu ada langkah konkret yang disinergikan antara jajaran pemerintah pusat dan daerah. Di samping itu, masyarakat memang harus proaktif dengan tidak panik di tengah corona yang sampai ke Indonesia. Dengan begitu, sentimen negatif yang melemahkan nilai rupiah dapat ditekan.

Sebagaimana diketahui, dilansir dari CNBC Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat  tambah lemah di perdagangan pasar spot hari ini. Dolar AS sudah berada nyaman di kisaran Rp15.100. Hingga pukul 15:00 WIB kemarin, USD1 dibanderol Rp15.150.

Aksi jual yang terus terjadi di pasar finansial global membuat arus modal keluar dari negara-negara emerging market termasuk Indonesia, dampaknya rupiah terus mengalami tekanan hingga saat ini.

Sementara itu, banyak negara-negara yang kini mengambil kebijakan lockdown guna meredam penyebaran COVID-19. Akibatnya, aktivitas ekonomi diprediksi melambat. Sehingga pertumbuhan ekonomi terancam terpangkas yang membuat sentimen pelaku pasar memburuk. Jika hal tersebut terus berlangsung, maka tekanan bagi rupiah masih belum akan berakhir dan yang terburuk masih belum datang. (*)

Reporter: Agung Riyanto

Editor: Rifat Munisa