Kaltara

Daging Alana Ilegal Kuasai Pasar Perbatasan

Foto: Ilustrasi/Internet
  • Harga Lebih Murah, Masyarakat Sendiri yang Menyukai

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kabupaten Nunukan yang secara geografis berada di garis perbatasan negara, menjadi sasaran beredarnya barang dari luar negeri. Tak jarang, produk masuk ke daerah secara ilegal, karena tidak dilengkapi dokumen dan registrasi kepabeanan. Masuknya sejumlah komoditi ini di wilayah Indonesia, khususnya Nunukan, juga berdampak terhadap pada sistem pasar. Salah satu komoditi yang kerap ditemui di pasar-pasar tradisional di perbatasan adalah daging kerbau kemasan merek Allana.

Ironisnya, daging beku tersebut didatangkan secara ilegal oleh sejumlah pengusaha yang ada di wilayah perbatasan. Daging itu juga dijual bebas oleh para pedagang, lantaran pemerintah juga tak bisa menyiapkan kebutuhan daging bai masyarakat. Sehingga, peredaran daging alana ilegal di pasar perbatasan kerap ditemui.

Asisten Administrasi Umum dan Pemerintahan Setkab Nunukan, Muhammad Amin mengakui, masih bergantungnya masyarakat perbatasan akan kebutuhan daging asal Tawau, Malaysia, menjadi salah satu penyebab perdagangan ilegal diperbatasan sulit dihilangkan.

“Kalau kebutuhan kita yang masih bergantung itu adalah daging. Sampai saat ini, kita belum ada peternakan yang sifatnya modern untuk memenuhi kebutuhan daging. Makanya, masyarakat (pengusaha) ambil daging itu dari Tawau. Ada yang secara ilegal tapi ada juga yang resmi,” katanya kepada Koran Kaltara, Senin (9/9/2019).

Selama ini, lanjut dia, pemerintah terus mendorong semangat masyarakat untuk beternak. Akibat ketergantungan daging dari Tawau, diakuinya menjadi salah satu daging alana ilegal kerap ditemui dipasar-pasar tradisional ataupun di lapak-lapak usaha masyarakat. Tidak hanya itu, dari persoalan harga yang lebih murah dibandingkan dengan daging-daging hasil produksi dalam negeri, juga menjadi salah satu penyebab.

“Kebutuhan daging di Nunukan masih bergantung dengan daging di Tawau. Itu memang tak bisa kita pungkiri. Dari segi harga juga, memang lebih murah di sana (Tawau). Makanya masih menjadi idola bagi para pengusaha daging di Nunukan,” jelasnya.

Upaya pemberdayaan terhadap peternak di Nunukan, terus dilakukan pihak Pemkab Nunukan. Ini agar kebutuhan daging asal Nunukan sendiri bisa terpenuhi bagi masyarakat. Sehingga, tidak ada lagi perdagangan daging ilegal yang ditemui di Nunukan. Karena, menurut dia, kualitas daging alana yang diatangkan dari Tawau itu, tak menjamin kualitas yang terbaik.

“Kita tetap akan berusaha untuk bagaimana mendorong para peternak, supaya bisa budaya peternakan. Kemudian kami juga minta kepada masyarakat, supaya dibatasi pembelian daging-daging dari luar negeri itu. Karena kita tidak tahu kesehatannya dan kualitas dagingnya. Mana kita tahu sudah berapa lama daging itu dibekukan. Daging asal luar negeri itu kan, juga tidak menjamin kualitas. Apalagi kalau didatangkan secara ilegal. Makanya, kita tetap berupaya bagaimana kebutuhan daging kita ini tidak bergantung dari daerah Tawau lagi,” pungkasnya. (*)

Reporter : Ramlan

Editor : Eddy Nugroho