Ekonomi Bisnis

Cuaca Basah Hambat Kegiatan Tambang Batu Bara

Foto: Ilustrasi/Internet
  • Produksi Semakin Diintervensi Standar Harga

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kondisi cuaca dalam kategori basah atau dengan curah hujan tinggi, dinilai berpotensi menghambat realisasi produksi baru di Kalimantan Utara (Kaltara) tahun 2019. Demikian dikonfirmasi Kepala Bidang Mineral dan Batu Bara (Minerba) pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltara, Adi Hernadi.

Secara teknis, kondisi cuaca basah dapat mengganggu kegiatan eksplorasi atau eksploitasi yang dilakukan pihak perusahaan. Sehingga perusahaan lebih memilih untuk menghentikan sementara kegiatan mereka.

“Kegiatan operasional produksi tentu tidak bisa dilakukan saat curah hujan tinggi. Karena selain dari medan tambang yang sulit, keselamatan pekerja juga jadi riskan. Jadi perusahaan terpaksa stop sementara tidak beraktivitas,” kata Adi saat dikonfirmasi Koran Kaltara, Rabu (15/5/2019).

Lanjutnya, perusahaan batu bara dinilai berharap agar tren cuaca basah di tahun 2017 tidak terulang pada tahun ini. Sehingga target produksi masing-masing perusahaan bisa tercapai.

“Harapan kami tentu cuaca tidak terlalu basah lagi seperti di tahun 2017. Kalau lihat 2017 lalu, banyak perusahaan yang stop sementara produksi. Jadi target itu tidak terealisasi seratus persen,” jelas Adi.

Adapun berdasarkan catatan Koran Kaltara, Harga Batu Bara Acuan (HBA) terus merosot selama tahun 2019. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, HBA Mei 2019 sebesar USD81,86 per ton. Tercatat, Dibandingkan dari bulan sebelumnya dengan nilai HBA sebesar USD88,85 per ton, dapat diketahui bahwa ada penurunan 7,8 persen pada bulan ini. Adapun HBA di bulan Mei sendiri menjadi yang terendah sejak Agustus tahun 2017 lalu.

Berdasarkan informasi dari Kementerian ESDM, penurunan HBA masih dipengaruhi tingkat permintaan dari Tiongkok dan India yang lebih kecil dibanding periode sebelumnya. Dimana Tiongkok masih mengkonsumsi batu bara hasil produksi dalam negeri. Sedangkan India, masih memiliki stok cadangan.

Disamping itu, penurunan HBA di pasar global masih dipengaruhi kebijakan pembatasan impor dari Tiongkok. Sehingga produksi batu bara Indonesia tidak bisa tersalur maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya. (*)

Reporter : Agung Riyanto

Editor : Rifat Munisa