Nunukan

Bertengkar Terus Menerus, Penyebab Utama Perceraian di Nunukan

Papan informasi perkara perceraian di Pengadilan Agama Nunukan. (Foto: Sabri)

NUNUKAN, Koran Kaltara – Sepanjang tahun 2019, data perceraian di Pengadilan Agama Nunukan berjumlah 221 perkara. Dari data tersebut, ada tiga faktor yang menjadi penyebab terjadinya perceraian di Kabupaten Nunukan, yakni meninggalkan salah satu pihak, perselisihan dan pertengkaran terus menerus serta murtad. Faktor perselisihan dan pertengkaran menjadi penyebab utama.

“Penyebab perceraian yang dominan itu karena perselisihan dan pertengkaran terus menerus. Tahun 2019 dari 221 perkara, 196 perkara cerai disebabkan karena perselisihan,” ungkap Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Nunukan Cahyo Komahally, Selasa (14/1/2020).

Ia mengatakan, awalnya ikatan rumah tangga baik-baik saja. Setelah itu ada perselisihan sedikit, kemudian dipendam dan akhirnya sudah tidak terbendung lagi sehingga mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama.

Perselisihan tersebut sudah tidak bisa diselesaikan dengan cara mediasi, dengan pihak keluarga karena yang menggugat ke Pengadilan Agama, biasanya tahap pertama jika kedua belah pihak hadir, akan dimediasi. Sampai tahap selanjutnya, setiap persidangan diusahakan untuk mediasi sampai belum jatuh putusan.

Tetapi ketika mediasi sudah ditempuh dan kedua belah pihak bersikukuh untuk memutuskan cerai, tinggal menunggu putusan pengadilan, bagaimana kelanjutan rumah tangga pasangan tersebut.

Selanjutnya, penyebab perceraian dikarenakan meninggalkan salah satu pihak dengan 24 perkara. Kasus ini, kata dia, karena Nunukan daerah perbatasan, kadang-kadang salah satu pasangan pamit dan pergi bekerja di Tawau. Tapi setelah itu tidak ada kabarnya, bertahun-tahun ditunggu, tidak ada kabarnya. Akhirnya salah satu pasangan bimbang dengan status perkawinan mereka. Terus secara nafkah lahir batin tidak dinafkahi baik itu perempuan maupun laki-laki yang ditinggalkan.

“Sudah cukup menunggu, akhirnya memutuskan untuk ke Pengadilan Agama demi kelangsungan hidup,” ujarnya.

Sedangkan faktor terakhir karena murtad yang hanya ada satu perkara.

Dari sisi usia, yang mengajukan gugatan cerai, kebanyakan umurnya di atas 25 tahun. Pasangan usia dianggap sudah matang, namun karena faktor perselisihan yang menjadi penyebab.

“Apakah karena faktor ekonomi, orang ketiga dan lainnya, dampaknya pasangan tersebut terus berselisih sehingga menjadikan mereka bercerai di pengadilan,” pungkasnya. (*)

Reporter : Sabri

Editor: Didik