Headline

Belum Terima Layanan Tes Covid-19

MEMBERIKAN KETERANGAN - Jubir Kewaspadaan Covid-19 di Kaltara Agust Suwandy saat ditemui media. (Foto: Rizqy/Koran Kaltara)
  • Di Kaltara Sebatas Menentukan PDP atau ODP

TANJUNG SELOR, Koran Kaltar – Sejak pandemi Covid-19 alias virus corona masuk di Indonesia, sejumlah upaya terus dilakukan oleh pemerintah. Opsi penanganan yang sempat menjadi pembahasan, di antaranya melakukan lockdown serta tes secara massal. Kemudian Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih untuk melakukan tes massal.

Bahkan diberitakan, pemerintah sudah memesan pengadaan alat tes cepat alias rapid test. Di sejumlah daerah, akan dikirimkan rapid test tersebut, dengan tujuan untuk mendeteksi warga secara cepat, apakah terinfeksi virus corona atau tidak.

Di Kalimantan Utara (Kaltara), memang sejauh ini dinyatakan nihil kasus positif virus corona. Meski demikian, ada ratusan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan delapan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Dikonfirmasi terkait pelayanan masyarakat untuk melakukan tes virus corona, Juru Bicara (Jubir) Pemantauan Covid-19 di Kaltara Agust Suwandy mengatakan, sejuah ini belum ada.

“Jadi kalau sekarang, pemeriksaan ini belum ada tes cepatnya. Jadi kita belum membuka layanan itu. Kita masih sebatas pemeriksaan OPD dan PDP. Itu pun kalau PDP pemeriksaan suhu dan secara klinis saja. Sementara PDP pengambilan sampel baru dikirim kan lagi (ke laboratorium),” ungkapnya.

Ia mengakui, bahwa rapid test merupakan alat kesehatan yang cukup mahal. Namun pihaknya juga masih menunggu informasi kapan alat tes cepat tersebut dari pusat di berikan untuk Kaltara. “Metodenya sangat sulit dan mahal. Jadi untuk rapid rest tadi yang dibilang banyak orang, kita masih nunggu peralatan yang datang,” sebutnya.

Jika alat tersebut sudah disiapkan di Kaltara, maka pasien yang dirawat, khususnya kategori PDP bisa langsung dites untuk diketahui hasilnya. Hanya saja, alat tersebut tentu diprioritaskan kepada yang memiliki gejala virus corona, setidaknya yang terdata sebagai PDP hingga ODP.

“Tetap akan perioritas yang ada tanda-tanda klinis. Jadi kalau yang biasa-biasa saja, tidak ada riwayat ke sana (daerah terpapar virus) belum (diprioritaskan di tes),” tegasnya. (*)

Reporter: Fathu Rizqil Mufid

Editor: Nurul Lamunsari