Bulungan

Banyak Petani Terkendala Modal Usaha

Foto: Ilustrasi/Interet

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bulungan Andik Wahyunarto mengakui, selama ini pihaknya banyak menerima keluhan dari para petani. Utamanya terkait sulitnya mendapatkan permodalan.

Modal bagi petani, menurutnya penting, dalam meningkatkan produktifitas pertanian. Untuk itu lah, berbagai upaya dilakukan dalam membantu petani. Salah satunya dengan menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) untuk bisa mendapatkan pinjaman modal melalui Perbankan.

Dijelaskan dirinya, keterjangkauan petani atau daya petani terhadap akses permodalan saat ini masih sangat sulit. “Banyak petani kita yang saat ini masih terkendala modal usaha. Untuk itu kita akan membuat peningkatan produktifitas petani yang ada di Kabupaten Bulungan,” kata Andik, Jumat (12/7/2019).

Saat ini, kata dia, para petani masih  cenderung menggunakan pupuk bersubsidi. Dengan penggunaan pupuk tersebut, hasil produksi dinilai sangat sulit. Solusinya, menurut Andik, petani membentuk koperasi dengan mengikutsertakan BUMDes, agar mau bergerak di bidang agrobisnis pedesaan.

“Misalnya, sistem memberikan pinjaman untuk pembelian pupuk non subsidi. Agar bisa meningkatkan produktivitas. Selama ini petani hanya berharap pupuk subsidi. Sehingga hasil pertaniannya tidak maksimal,” ungkapnya kepada Koran Kaltara.

Untuk tahun depan, diharapkan areal tanam dapat meningkat. Meskipun ada areal tanam tak tercapai.  “Kita berkeinginan semua para petani bisa berhasil,” ucapnya lagi.

Kembali dia menjelaskan, permodalan adalah permasalahan paling mendasar yang sering dihadapi petani. Modal sering menjadi kendala seorang petani dalam melakukan usahataninya. Keterbatasan modal juga membuat kuantitas dan kualitas hasil yang didapat petani tidak maksimal bahkan gagal dan tidak sesuai target. Permasalahan modal ini juga menjadi penyebab utama banyaknya petani yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Selain itu sifat budidaya yang lebih tergantung dengan alam, kegagalan panen yang dialami petani tentu menjadi permasalahan yang sangat serius. Petani yang tergolong miskin seringkali tidak memiliki tabungan untuk menutupi kerugian usahataninya. Akan muncul masalah bagaimana petani mendapatkan modal untuk memulai kembali usahataninya, mulai dari pembelian bibit, pupuk, pestisida, dan sarana produksi pertanian lainnya. “Petani akan dituntut untuk mendapat modal dari pihak lain,” imbuhnya. (*)

Reporter : Ike Julianti
Editor : Eddy Nugroho