Tarakan

Banjir Ayam, Harga Turun Rp28 Ribu per Kilo

Bazar ayam potong yang dilakukan salah satu pedagang di Pasar Gusher, Selasa (10/9/2019). (Foto : Sahida/Koran Kaltara)

TARAKAN, Koran Kaltara Selama tiga hari, hingga hari ini (11/9/2019) harga ayam potong mengalami penurunan hingga Rp28 ribu per kilogram. Harga ini jauh menurun dari harga biasanya yang berkisar Rp35 ribu hingga harga eceran tertinggi Rp45 ribu.

Penurunan harga ayam ini karena stok ayam siap panen di salah satu pengusaha ayam inti, Paguntaka Mitra Sejahtera (PMS) lebih banyak dari permintaan pasar.

Salah satu pedagang ayam, Alpian mengatakan harga Rp28 ribu ini bazar dari perusahaan ayam inti, PMS yang hanya berlaku selama tiga hari. Ia mengungkapkan, harga dari perusahaan, Rp20 ribu per ekor kemudian dijual pedagang dengan harga Rp28 ribu.

“Kalau Rp20 ribu, ayam potong dari perusahaan kan masih lengkap dengan bulunya. Sedangkan untuk harga Rp28 ribu itu kalau minimal beli 1 ekor, kotor yang ada kaki, kepala dan jeroan. Kan satu ekor itu bobot ayam sekitar 2 kg sampai 3 kg,” ujarnya, Selasa (10/9/2019).

Harga promo Rp28 ribu untuk ayam lengkap dengan isinya, berbeda dengan beli bersih tanpa kaki, kepala dan jeroan. “Kalau ayam bersih, harganya Rp33 ribu sampai Rp35 ribu,”

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan di Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan, Suwondo mengatakan turunnya harga ayam ini karena jumlah ayam yang siap potong, lebih banyak dari permintaan pasar.

“Pasar murah di Pasar Gusher, pengusaha ayam inti yang lain mengeluhkan. Mereka mau pasar murahnya di Dinas Perdagangan dan Koperasi (Disdagkop). Karena, harga sudah turun dan ada pasar murah lagi di Gusher, jadi harga tidak bersaing, karena terlalu jauh,” jelasnya.

Hanya saja, dari pihak PMS mengaku tidak memiliki pekerja untuk operasional yang bisa menjualkan ayam diluar Pasar Gusher. Sehingga, pasar murah dilakukan pedagang ayam yang memang membeli ayam inti dari PMS.

Suwondo juga mengaku, untuk masalah harga merupakan kewenangan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) sedangkan Disdagkop Tarakan hanya menyediakan stok dan proses distribusi. Sehingga kebijakan pasar murah ada di Disperindagkop Kaltara.

“Karena situasi mendesak, kelebihan produksi jadi untuk mengurangi situasi ayam yang banjir ini makanya dibuat pasar murah. Kan situasi ini tidak bisa dibiarkan, sementara produksi ayam di kandang semuanya sudah siap panen, tapi permintaan pasar lebih kecil. Akhirnya ayam semakin banyak dan kerugian semakin besar,” tuturnya.

Kondisi ayam di pasar, kata Suwondo selain banyak juga besar. Sementara harga ayam tidak sama, tergantung dari pemasok ayam inti. Perusahaan ayam inti PMS yang terbanyak memiliki ayam siap panen, sehingga harga ayam dari PMS anjlok.

“Biasanya, ayam inti kisaran harganya Rp29 ribu di hari biasa, beda lagi kalau di momen tertentu, saat Lebaran misalnya. Kemudian berapa hari lalu harganya turun menjadi Rp26 ribu, lalu turun lagi Rp23 ribu dan sekarang Rp20 ribu perkilo,” tandasnya. (*)

Reporter : Sahida

Editor : Rifat Munisa