Kaltara

Awas! Anak Gadis Jadi Sasaran

Salah satu tersangka atas kasus human trafficking yang berhasil diungkap pihak Sat Reskrim Polres Bulungan. (Foto : Ramlan/Koran Kaltara)
  • Human Trafficking, Masalah Klasik yang Terus Berulang

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Beragam upaya telah dilakukan untuk memusnahkan kasus perdagangan manusia (human trafficking). Namun nyatanya, persoalan klasik ini seolah tak pernah berkesudahan.

Di Provinsi Kaltara sendiri, jajaran Sat Reskrim Polres Bulungan kembali mengungkap kasus human trafficking dengan korban gadis di bawah umur.

Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kaltara, Imransyah mengatakan, gaya hidup masa kini yang tinggi menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya prostitusi pada anak.

Tak hanya itu, himpitan ekonomi kerap menjadi alasan sejumlah perempuan memilih jalan pintas dalam mendapatkan uang.

“Kalau kita lihat, memang gaya hidup yang tinggi dengan ekonomi yang rata-rata memang menjadi penyebab. Keinginan pada remaja itu tinggi. Ketika mereka memiliki kebutuhan-kebutuhan yang material, kemudian keinginan untuk hedonisme (kemewahan) di tengah kekurangan atau keterbatasan ekonomi dan pendidikan. Dengan kondisi itu, pasti memilih jalan pintas untuk dapatkan uang,” katanya kepada Koran Kaltara, Selasa (13/8/2019).

Hal itulah yang menjadikan banyak anak dan remaja yang terjun ke dalam dunia prostitusi anak.

Pendapat bahwa tingkat pendidikan yang menyebabkan para wanita menjadi korban trafficking nyatanya terbantahkan. Banyak juga kalangan perempuan yang sudah melek pendidikan, namun tetap saja menjadi korban. Bahkan lebih parahnya lagi, dalam banyak kasus, justru anak-anak sekolah yang menjadi korban perdagangan.

“Makanya itu, semua harus bertanggungjawab. Tidak hanya dari pemerintah, namun peran dari keluarga, orang tua juga sangat penting. Terutama korbannya anak masih di bawah umur, itu harus jadi perhatian kita. Karena mereka masih perlu dalam perlindungan. Kita takutkan, psikologisnya jadi terganggu jika menjadi korban kasus itu (human trafiicking),” jelasnya.

Lebih jauh dijelaskannya, orangtua, diharapkan tidak memaksakan anaknya yang masih remaja untuk mencari nafkah sendiri demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan jangan sampai dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Tidak hanya itu, pengawasan yang maksimal harus menjadi tanggungjawab orang tua . “Eksploitasi anak ini sudah melanggar undang-undang dan orangtua yang sengaja mengeksploitasi anak remajanya ini bisa dipidana. Karena mereka masih dilindungi dan kewajiban mereka hanya belajar,” tutupnya. (*)

Reporter : Ramlan

Editor : Hariadi