Ruang Publik

ASN Milenial dalam Menyongsong Industri Digital

Wahyu Eko
  • Oleh Wahyu Eko Handayani, S.Pd., M.P

REALITA yang terjadi sekarang adalah pemanfaatan teknologi yang merubah  tata nilai dalam kehidupan. Kita dapat sedikit menengok berbagai fakta terkait dengan pemanfaatan teknologi yang benar-benar mampu merubah pola kehidupan masyarakat yang lebih efisien.

Beberapa contoh diantaranya; tutupnya beberapa gerai ritel yang memiliki skala usaha yang cukup besar yang diakibatkan (salah satunya adalah) pergeseran minat masyarakat untuk berbelanja online.

Kemudian persaingan antara taksi konvensional (dengan menggunakan argo) dengan moda angkutan berbasis online (taksi online dan ojeg online), akankah taksi konvensional akan bertahan dengan bisnis ini? Pengelola moda online tidak membutuhkan banyak penambahan modal untuk ekspansi usaha.  Bahkan diversifikasi moda dengan menggunakan online menyediakan layanan pengiriman makanan sampai depan pintu rumah, hebat bukan!

Kecenderungan penggunaan literature berbasis online pada pendidikan, fenomena penerbit konvensional yang menerbitkan buku dalam bentuk cetakan di kertas melawan e-book.

Lalu kecenderungan penggunaan kartu debet, kartu kredit dan mesin ATM, aplikasi layanan perbankkan berbasis internet dan aplikasi digawai dan masih banyak lagi.
Contoh-contoh di atas merupakan sebagian bagian yang sangat kecil dari menggunaan jaringan komputer/jaringan internet.

Fenomena yang telah dipaparkan di atas lambat laun pasti akan lebih kencang lagi prosesnya, kehadiran teknologi informasi menggantikan beberapa fungsi rangkaian kehidupan, dalam kehidupan  teknologi informasi telah dimanfaatkan secara universal oleh siapapun, dimanapun berada, tidak ada batas usia, tidak mengenal jabatan dan seterusnya. Secara alamiah manusia membutuhkan alat yang mendukung kenyamanan bagi berbagai aktifitas kehidupannya.

Teknologi Informasi adalah indikator dari kebangkitan Revolusi Industri ke 4.0 ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi yang dimanfaatkan secara masif oleh yang masyarakat. Internet of Thing demikian disebutkan dalam berbagai literature yang berkaitan Revolusi Industri ke 4.

Manusia bahkan akan hidup dalam ketidakpastian (uncertainty) global, terjadi disruption (gangguan), penjungkirbalikan pada semua tata kehidupan manusia, tidak ada batas-batas yang jelas tentang berbagai hal. Sebagai contoh batas negara menjadi kabur karena arus transaksi perdagangan berbasis online, informasi masuk tak terbendung dari semua penjuru dunia, kontak fisik dan interaksi masyarakat diwakili dengan berbagai aplikasi sosial media.

Hal tersebut di atas juga mulai menggejala pada organisasi korporasi dan pemerintahan. Sebagai contoh transaksi elektronik sudah menjadi bukti transaksi yang lazim dan sah. Pada organisasi publik / pemerintah, misalnya mulai digunakannya berkas elektronik untuk proses kenaikan pangkat regular dengan menggunakan istilah lesspaper (sedikit kertas) dan akan terus menjadi paperless (tanpa kertas).

Contoh lain pengajuan dan pembayaran pajak dengan menggunakan e-filling sehingga wajib pajak tidak perlu berjubel di kantor pajak.

Bagaimana ASN Mempersiapkan Diri Memasuki Revolusi Industri 4.0

Apakah kita sebagai ASN siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi?, Hal ini tidak cukup  hanya direnungkan tetapi yang dipikirkan sekarang harus mulai direncanakan dan dikerjakan mulai sekarang, karena waktu tidak akan kompromi dan akan melaju terus.

Beberapa hal yang sekiranya dapat dikerjakan, antara lain; pertama, memanfaatkan teknologi saat ini untuk mempelajari berbagai hal dalam rangka mengantisipasi kemungkinan dimasa mendatang. Saat ini terdapat kecenderungan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dilingkungan masyarakat (tidak terkecuali PNS) masih sebatas mengikuti trend kehidupan sosial sebatas informasi dijadikan untuk memenuhi rasa ingin tahu dan bahkan sekedar menumpuk sampah informasi (yang seharusnya tidak penting tetap diakses).

Kedua, penggunaan teknologi informasi belum pada tataran untuk kepentingan peningkatan kapasitas. Teknologi Informasi yang diwujudkan dalam jejaring internet dapat diibaratkan perpustakaan yang tiada batas sehingga pengetahuan apapun bisa kita peroleh.

Ketiga, memperluas jejaring (network) dengan berbagai pihak, kungkungan bekerja di tempat kerja tidak akan membatasi pengembangan jejaring pertemanan yang dapat memotivasi, dan memberikan kesempatan untuk meraih kesempatan yang lain.

Keempat, membangun kepercayaan dan memberikan pelayanan yang terbaik, maskipun informasi dapat memberikan kepastian terhadap pelayanan tetapi saat dihadapkan pada hal-hal tertentu masih diperlukan kontak fisik/bertatap muka untuk  dalam hal ini harus mampu  membangun kepercayaan sehingga  pelanggan menjadi lebih loyal dan citra organisasi terangkat.

Kelima, bekerja tidak hanya untuk hari ini, pada saat diberikan kepercayaan untuk melaksanakan tugas maka tugas tersebut harus dikerjakan tidak hanya dengan baik tetapi harus harus lebih baik dari yang dikerjakan sebelumnya.

Terakhir, belajar jangan berhenti di hari ini. Bila mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat untuk bekerja di hari ini maka hari esok harus mendapatkan informasi untuk merencanakan kehidupan di masa mendatang.

“65 Persen Pekerjaan Hari Ini akan Hilang 10 Tahun Mendatang” merupakan hal yang nyata dan pasti akan terjadi, maka bersiap mulai sekarang akan membantu memperkecil resiko terimbas karenanya.

Pemerintah menjamin karir ASN dalam undang-undang seiring dengan diterapkannya sistem merit ASN yang berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar tanpa membedakan ras, agama, asal usul, jenis kelamin, maupun kondisi fisik.

Sistem merit ini menjamin pegawai dapat melangkah ke jenjang lebih tinggi, meningkatkan kualifikasi kompetensi, dan kinerja diri masing-masing. Oleh karena itu, sebagai ASN anda dituntut untuk meningkatkan kedisiplinan, integritas, profesionalisme dalam pelayanan dan kinerja masing-masing.

Selanjutnya, dalam menjalankan pekerjaan senantiasa mengedepankan integritas yang tinggi untuk meraih kinerja yang terbaik. Generasi ini juga diharapkan terus mengembangkan diri, progresif, serta menyukai inovasi dan kreatif, sehingga nantinya harus menjadi penerus atau jadi pemimpin atau pemangku kebijakan yang ada di pemerintahannya.

Peran ASN dalam Revolusi Industri 4.0

Pegawai Negeri Sipil,  yang disebut juga dengan Aparatur Sipil Negara, sebagaimana amanah Undang Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN menyatakan, bahwa tugas dan fungsi PNS  selain sebagai Pembuat dan Pelaksana Kebijakan Publik dan Perekat Pemersatu Bangsa juga berperan sebagai Pelayan Publik. (UU N.5/2014, 2015) Berkaitan dengan era Revolusi Industri 4.0 maka sebagai pelayan publik tentunya PNS dituntut untuk bekerja lebih maksimal lagi agar ekspektasi masyarakat terhadap PNS semakin terjawabkan.

Revolusi Industri 4.0 secara fundamental mengakibatkan berubahnya cara PNS berpikir atau mind set, cara PNS dalam menyikapi kemajuan jaman, dan cara PNS dalam berinteraksi satu dengan yang lain.

Bagaimanapun semua akan mengalami perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang harus dilakukan. Bahkan ada ahli administrasi manajemen yang mengatakan bahwa jika kita tidak berubah maka kita akan tertinggal. (Petter Sange, 2008).

Dari sisi perubahan pola pikir atau mindset, PNS tidak lagi berpikir rutinitas, melainkan berpikir  out of the box , bila perlu berpikir out of the side box. Mind set sebagai pelayan publik, PNS tidak lagi harus bermental dilayani tetapi harus mental melayani.

Wawasan dan pengetahuan juga harus global, tidak berada dalam pikiran yang sempit dan tidak terbuka, serta alergi terhadap pendapat orang lain. Keahlian juga perlu ditingkatkan, dan sikap mental harus dirubah. Begitu juga pengetahuan tentang kompetensi pemerintahan harus diperdalam.

Dalam menyikapi perkembangan global, maka PNS di era Revolusi Industri 4.0, tidak lagi hanya bersikap statis tetapi dinamis. Tidak lagi takut pada kemajuan teknologi tetapi harus pintar teknologi, bahkan bila perlu mampu menguasai, mengatur dan mengendalikan teknologi, terutama teknologi informasi.

Teknologi informasi adalah indikator dari kebangkitan Revolusi Industri 4.0. Penggunaan teknologi informasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat sudah sangat bersifat masif.  Kemajuan teknologi informasi yang merupakan penggerak Revolusi Industri 4.0, dapat dilihat dari keberadaan teknologi informasi yang diwujudkan dalam berbagai fasilitas aplikasi, penggunaan jaringan internet dan atomatisasi peralatan mekatronika lainnya.

Itulah sebabnya, jika PNS tidak menguasai teknologi, maka pekerjaan yang dilakukannya akan tertinggal dan menghilang. Apalagi ini pernah di-statement-kan oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara Republik Indonesia yang menyatakan bahwa 65 persen pekerjaan saat ini akan hilang dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. (Bima Harya Wibisana, 2018).

Begitu pentingnya peran PNS dalam menguasai teknologi ini karena kedepan, diprediksi bahwa 75 persen pekerjaan selain melibatkan kemampuan sains, teknik dan matematika, juga teknologi dan internet of things (Zimmerman, 2018)

Pada kontek hubungan kerja, baik antara pimpinan dengan bawahan, antara pimpinan dengan teman sekerja, antara satu unit kerja dengan unit kerja lain, tidak lagi terjadi egoisme tugas. Jangan lagi terjadi egoisme antar bidang, jangan lagi terjadi egoisme antar unit kerja, jangan lagi terjadi kompetisi yang saling menjatuhkan, melainkan yang ada adalah kolaborasi. Karena dengan kolaborasi pekerjaan akan menjadi lebih efisien dan tujuan menciptakan tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel atau open goverment and open data berdasarkan eco-system atau kebutuhan masyarakat akan terwujudkan dengan segera. (Otto Scharmer, 2019).

Yang lebih penting lagi, di era  Revolusi Industri 4.0, PNS juga harus bisa menciptakan dan melakukan inovasi terutama berkaitan dengan inovasi pelayanan  publik. Inovasi  yang didukung dan berbasis dengan perkembangan teknologi.

Pemerintah baik pusat, provinsi, kabupaten dan kota juga harus membuat kebijakan yang pro terhadap Revolusi Industri 4.0, jika ingin kegiatan pembangunan di daerah tetap berkesinambungan. Oleh karena itu, apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Pontianak melalui Pontianak Smart City-nya, yang merupakan bentuk inovasi untuk Tata Kelola Pemerintahan yang efektif dalam era Revolusi Industri 4.0 ini, patut diberikan apresiasi dan dicontoh oleh daerah lain.

Revolusi Industri 4.0, telah mengubah cara  kerja manusia menjadi otomatisasi / digitalisasi melalui inovasi-inovasi.  Suatu kenyataan yang tidak dapat dihalangi bahwa otomatisasi akan menghilangkan banyak pekerjaan, suatu dampak yang hendaknya menjadi bahan renungan bersama.
Suka atau tidak, ASN harus bisa menerima dan melakukan serta mengantisipasi hal tersebut. (*)

*) Penulis adalah Widyaiswara BPSDM Kalimantan Utara