Kopi Pagi

Andai Kaltara Seperti Jakarta

Agus Wiyanto
  • Oleh: Agus Wiyanto (Manajer Bisnis Koran Kaltara)

PEMADAMAN bergilir marak lagi di Kaltara, khususnya daerah Ibu Kota Tanjung Selor. Sudah hampir sepekan merasakan krisis listrik. Durasi padam tidak sebentar, bisa sampai enam jam per hari.

Alih alih penyampaian resmi dari PLN Tanjung Selor, justru mereka selaku pihak otoritas yang menangani perihal kelistrikan di daerah ini terkesan seenaknya menerapkan kebijakan pemadaman tanpa arahan yang jelas.

Untuk diketahui, PLTU Sekayan dengan kapasitas 7,5 Megawatt (MW) selama ini menjadi salah satu andalan untuk memasok listrik oleh PLN kepada masyarakat di Bulungan. Di samping PLTD di Sei Buaya yang dimiliki PLN.

Dan data dari Dinas ESDM Kaltara beban puncak siang hari di Tanjung Selor mencapai 10.107 kW. Sementara pada malam hari, sebesar 12.052 kW.

Adapun kondisi pembangkit PT PLN (Persero) Kabupaten Bulungan untuk sistem Tanjung Selor sendiri, total daya mampu dari 18 pembangkit yang digunakan mencapai 15.300 kW.

Kurangnya respon tanggap dari pihak PLN Tanjung Selor berbanding terbalik dengan yang terjadi di Ibu Kota Jakarta beberapa waktu lalu.

Masih segar diingatan bagaimana kisruhnya kondisi Jakarta dan daerah sekitar yang terdampak pemadaman.

Dari pejabat hingga masyarakat menyuarakkan kekesalannya atas ulah PLN. Presiden sampai mengomeli Direktur PLN dan jadi trending berita dimana-mana.

Tidak sampai dua hari, jajaran PLN turun tangan dari level atas hingga tekhnisi untuk menyelesaikan kondisi ini. Itu bedanya Kaltara dan Jakarta jika bicara respon pemadaman bergilir.

Di provinsi perbatasan ini masalah defisit daya sejak dari Kaltara masih bagian Kaltim hingga sudah pisah seperti sekarang masih jadi alasan ampuh PLN. Pemeliharaan mesin yang dilakukan hampir setiap waktu nyatanya tak sepenuhnya memberi penyelesaian maksimal.

Pemadaman masih terjadi tanpa solusi kongkrit.

Ganti manajer berikut kebijakan juga tidak membawa angin segar, malah terkesan makin amburadul.

Masyarakat seperti dididik untuk mengeluh setiap pemadaman dan tidak diindahkan lagi hak-hak dasarnya sebagai pengguna layanan kelistrikan yang dijamin sepenuhnya oleh negara.

Bahkan aksi massa yang beberapa kali digalang mahasiswa dan masyarakat cenderung menguap tanpa tindak lanjut.

Mengingat pemadaman bergilir merupakan masalah klasik yang sudah berlangsung lama harusnya ada strategi meminimalisir gangguan yang diterapkan demi mencegah meluasnya dampak yang ditimbulkan.

Sejauh ini PLN juga belum sepenuhnya terbuka terkait manajemen yang diberlakukan dalam mengatasi masalah yang rutin terjadi ini.

Sebagian masyarakat hanya selalu diberi informasi bahwa pemadaman dilakukan demi efisiensi daya di wilayah tertentu.

Jika ini berlarut kerugian yang ditimbulkan tentu juga tidak sedikit mengingat efek domino yang dipicu setiap ada gangguan listrik di titik wilayah tertentu.

Kerugian secara materi mungkin tidak setimpal jika rentang waktu pemadaman masih singkat, namun jika sudah menyita waktu yang panjang dan berlangsung tiap hari dampak ke peralatan elektronik adalah kerusakan yang paling nyata.

Ini menjadi keluhan besar masyarakat khususnya sektor rumah tangga. Belum lagi bisnis rumahan yang kian hari jumlahnya terus meningkat.

Apa kerugian-kerugian ini belum cukup menjadi pekerjaan rumah bagi PLN Tanjung Selor untuk segera berbenah total. Sampai kapan kondisi pemadaman bergilir seperti ini menjadi topik hangat di Kaltara.

Andai saja provinsi ini seperti Jakarta yang mendapat perlakuan istimewa sebagai ibu kota negara.

Andai saja provinsi ini seperti Jakarta yang mendapat dispensasi penyelesaian tepat waktu.

Andai saja provinsi ini seperti Jakarta yang begitu diperhatikan hak-haknya sebagai pengguna layanan.

Harapan itu selalu ada, semoga saja otoritas PLN Tanjung Selor yang saat ini sedang dinakhodai manajer baru bisa membuka harapan masyarakat terkait ketersediaan listrik yang mumpuni.

Ibu kota ini sedang memoles diri untuk menunjukkan pesonanya. Tanpa listrik sebagai salah satu infrastruktur utama, mustahil segala nawa cita pembangunan untuk Kaltara terdepan bisa dicapai. (*)

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment