Tarakan

Akhirnya Polisi Jemput Pelaku Penganiayaan Video Viral

Pelaku penganiayaan yang videonya direkam dan disebarkan di media sosial hingga akhirnya viral diperiksa penyidik Unit PPA Sat Reskrim Polres Tarakan, kemarin (15/5/2019). (Foto : Sahida/Koran Kaltara)
  • Identitas Korban Masih Diselidiki

TARAKAN, Koran Kaltara Sejak viral beberapa hari terakhir, polisi langsung mengambil sikap dengan melakukan penyelidikan siapa pelaku dan korban di dalam video penganiayaan yang melibatkan anak berusia di bawah umur.

Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira Midyahwan melalui Kasat Reskrim AKP Ganda Swastika menuturkan, terkait video viral penganiayaan yang saat ini menjadi trending topik di media sosial Facebook, pihaknya sudah memanggil terduga pelaku penganiayaan.

Sekira pukul 11.30 Wita kemarin (15/5/2019), tampak terduga pelaku yang masih merupakan pelajar di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini tiba di Polres Tarakan didampingi penyidik Unit PPA Sat Reskrim. Terduga pelaku ini, dijemput di rumahnya setelah sebelumnya unit PPA gagal menemukan terduga pelaku di sekolahnya.

“Kami sudah melakukan penyelidikan, terhadap video ini. Terduga pelaku yang melakukan penganiayaan juga sudah kami temukan dan kami jemput, sekarang sedang dilakukan pemeriksaan. Tetapi, kami belum menemukan identitas dari korban penganiayaan tersebut. Dari keterangan pelaku, kami mencari alamat dari korban dan identitasnya,” ujarnya, dikonfirmasi kemarin (15/5/2019).

Informasi sementara, korban pernah bersekolah di salah satu SMP di Tarakan dan sudah tidak melanjutkan sekolahnya. Selain itu, korban dan pelaku saling kenal, namun Kasat Reskrim menolak membeberkan permasalahan pribadi yang membuat pelaku menganiaya korban.

“Karena pelaku dan korban dilindungi Undang-undang perlindungan anak. Kami akan melakukan mediasi terlebih dahulu, karena memang kewajiban dari polisi untuk memediasi antara pelaku dan korban,” katanya.

Dari pemeriksaan awal, pelaku mengakui melakukan penganiayaan dan menyesali perbuatannya. Sementara terhadap orang yang membuat dan menyebarkan video juga akan dilakukan pemanggilan, karena mengetahui pada saat penganiayaan tersebut. Namun, pelaku mengaku tidak mengetahui aksi penganiayaan yang dilakukannya direkam dan disebarkan oleh temannya sendiri.

Orang yang merekam ini kemudian menyebarkan melalui grup WhatsApp dan berkembang penyebarannya ke media sosial Facebook, akhirnya menjadi viral. Pelaku baru mengetahui ia direkam, setelah polisi datang ke rumahnya.

“Kita baru memanggil para pelaku yang diduga melakukan penganiayaan didampingi orangtuanya. Tapi, kami imbau kepada masyarakat Tarakan agar tidak menyebarkan video penganiayaan tersebut. Karena akan berimbas pada psikologis baik terhadap korban atau pelaku ini, kan masih di bawah umur,” tandasnya. (*)

Reporter : Sahida

Editor : Rifat Munisa