Tana Tidung

Akhir Pekan, Tak Ada Lonjakan Penumpang Speedboat

Jumlah penumpang speedboat di akhir pekan belum meningkat, terlihat di Pelabuhan Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Jumat (21/2/2020) kemarin. (Hanifah/Koran Kaltara)

TANA TIDUNG, Koran Kaltara – Biasanya, setiap akhir pekan lonjakan penumpang transportasi laut jenis speedboat di Pelabuhan Tideng Pale, Kecamatan Sesayap akan terjadi, namun menjelang liburan akhir pekan kali ini bukan menjadi jaminan jumlah penumpang akan meningkat, sebab sejak pagi hari jadwal keberangkatan sejumlah speedboat non reguler pun tidak kunjung berangkat lantaran kurangnya penumpang.

Seperti penuturan salah satu motoris speedboat non reguler, Irham mengakui akhir pekan sekarang ini bukan jaminan mendapatkan penumpang yang banyak apalagi sampai memenuhi kapasitasnya, rata-rata jumlah penumpang yang didapatkan kurang dari 10 orang atau tepatnya 5 – 6 orang saja, padahal untuk pengeluaran biaya operasional membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) jauh lebih besar.

“Dengan jumlah penumpang sebanyak itu (5 – 6 orang) tidak akan mungkin menutup biaya operasional membeli BBM, karena untuk perjalanan dari Kabupaten Tana Tidung (KTT) ke Tarakan Pulang Pergi (PP) sekitar 200 – 250 liter atau Rp 2 juta lebih, biasanya ada sebagian yang nekat berangkat karena berharap di Tarakan nanti akan dapat penumpang yang banyak,” tukas dia, Jumat (21/2/2020) kemarin.

Tapi, lagi-lagi mereka harus kecewa karena sesampainya di Pelabuhan SDF di Tarakan nasib yang sama pun menimpa mereka, hal ini ditenggarai mengingat hampir sebagian besar aktivitas warga di KTT bergantung pada kegiatan pemerintahan sehingga saat kegiatan pemerintah belum berjalan maksimal, mau tak mau aktivitas warga KTT pun bergerak lamban bahkan stagnan.

“Minimal saat tunjangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) maka warung sampai kami yang memberikan layanan transportasi ke mereka pun menjadi lancar, jadi tetap saja kegiatan pemerintah berjalan barulah kami-kami ini yang berharap penumpang akan lancar jaya nantinya, semuanya bergantung pada hal itu tidak dapat kami pungkiri,” sambung dia.

Diketahui, kegiatan pemerintah yang dimaksud yakni pengelolaan keuangan pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap tahunnya dan diperkirakan setiap bulan Maret atau April baru lah kegiatan pemerintah mulai berjalan normal, aktivitas warga KTT pun akan mengikuti arus penyelenggaraan pemerintah tersebut.

Menurut Irham, karena minimnya jumlah penumpang itu membuat dirinya tidak dapat berangkat setiap harinya sesuai jadwal yang telah ditentukan dan dia mengaku, menunggu penumpang yang benar-benar dapat menutupi biaya operasional atau memenuhi kapasitas seharusnya hanya dapat dilakukan satu pekan sekali saja, akhir pekan yang dia harapkan pun tak menjamin sama sekali dapat berangkat ke Tarakan dengan mulus.

“Minimal dengan 10 – 12 penumpang sudah bisa lah jalan (berangkat, Red), tapi sepinya penumpang setiap hari dan ditambah lagi di akhir minggu membuat kesulitan bagi kami berangkat sesuai jadwal, jadwal kami biasanya seminggu 2 – 3 kali tapi seminggu saja yang kami harapkan pun kadang iya kadang juga tidak sama sekali berangkatnya,” ungkap dia.

Dia berharap, kegiatan pemerintah akan segera dilakukan dalam waktu dekat ini, setidaknya di awal Maret supaya usaha layanan transportasi laut seperti dirinya dapat meraup penghasilan yang lumayan untuk memenuhi nafkah dan kebutuhan keluarga nantinya. (*)

Reporter: Hanifah

Editor: Nurul Lamunsari