Tarakan

Aji Wiweko Serahkan Denda dan Uang Pengganti ke Jaksa

Tiga terdakwa korupsi UBT, saat sidang di Pengadilan Tipikor Kaltim di Samarinda Februari lalu. (Foto : Dokumen/Koran Kaltara)
  • Dua Terpidana Korupsi UBT Lainnya Belum Bayar

TARAKAN, Koran Kaltara – Aji Wiweko alias Ahong, salah satu terpidana kasus korupsi pengadaan bahan mengajar (hanjar) Program Sarjana Kependidikan Guru dalam Jabatan (PSKGJ) FKIP UBT, menyerahkan uang pengganti dan denda ke Kejaksaan Negeri Tarakan, Selasa (8/10/2019).

Ahong, diwakili istrinya memberikan Rp100 juta dengan rincian, uang pengganti dan denda masing-masing Rp50 juta. Dasar pembayaran denda dan uang pengganti ini adalah putusan PN Tipikor Samarinda No.43/Pid.Sus-TPJ/2018/PN.Smr tanggal 01 Maret 2019.

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Kaltim di Samarinda menjatuhkan hukuman 1 tahun penjara, denda Rp50 juta subsider 1 bulan dan uang pengganti Rp50 juta subsider 1 bulan kurungan untuk Aji Wiweko. Atas putusan tingkat pertama ini, Ahong tidak mengajukan banding sehingga perkaranya inkracht dan sudah dieksekusi.

“Dengan demikian Aji Wiweko tidak perlu menjalani hukuman subsider pengganti dan hanya menjalani pidana pokok selama satu tahun penjara saja,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Tarakan Rachmad Vidianto melalui Kasi Pidana Khusus Tohom Hasiholan.

Ia juga menambahkan, eksekusi Ahong setelah kasus ini inkracht, dilakukan di Samarinda. Sejak awal, Ahong memang diserahkan ke Rutan Samarinda saat sidang. Penahanan terhadap Ahong ini baru dilakukan saat kasusnya tahap 2, sedangkan saat perkaranya masih dalam penyidikan di kepolisian tidak dilakukan penahanan.

“Eksekusi di Samarinda. Sampai sekarang Ahong masih di Rutan Samarinda. Sepengetahuan saya tidak ajukan pindah. Tapi, kalau pindah Lapas itu sudah bukan ranah kejaksaan lagi,” katanya.

Ahong dalam perkara ini berperan sebagai pihak ketiga, pemilik toko dan fotocopy Anugerah ini. sedangkan untuk dua terpidana lainnya, Ketua Panitia PSKGJ FKIP UBT, Yansar divonis pidana 1 tahun penjara dan denda Rp50 juta, subsider 1 bulan kurungan. Yansar juga dibebankan uang pengganti Rp13 juta dengan subsider 1 bulan kurungan.

Kemudian, mantan Dekan FKIP UBT, Herdiansyah divonis 1 tahun penjara dan 6 bulan ditambah denda Rp50 juta subsider 1 bulan dan uang pengganti Rp112.989.210 subsider 2 bulan kurungan.

“Yansar Saja yang bayar uang pengganti Rp13 juta, kalau denda belum bayar. Sedangkan Herdiansyah belum bayar denda dan uang pengganti,” jelasnya.

Untuk diketahui, sebelum kasus korupsi hanjar di FKIP UBT, penyidik Sat Reskrim Polres Tarakan juga menemukan korupsi dalam perkara pemotongan honor dan uang perjalanan dinas mengajar di daerah 3T. Dalam perkara ini Herdiansyah dan Yansar sedang menjalani hukuman pidana 4 tahun penjara, sedangkan Ahong hanya tersangkut dalam perkara korupsi hanjar. (*)

Reporter : Sahida

Editor : Rifat Munisa